Oleh: Muhammad Itsbatun Najih
Hidup berkebudayaan menegaskan bahwa seluruh aspek kehidupan perlu
ketatacaraan hingga mewujud pada harmonisasi dan kelangsungan bersama.
Kesinambungan yang terus sejalan dengan tentunya memperhatikan kontekstualitas
laju zaman. Maka, tidak semata selesai pada keajegan. Ada dimensi-dimensi lain
yang sulit untuk diterka dan dicerna. Kita bisa menyebut sebagai sesuatu tak
terduga, tak terprediksi, mendadak, atau bersifat misteri. Memang, senyatanya
perencanaan hendaknya tetap diletakkan pada nilai-nilai idealis (das sein)
meski perwujudan (das solen) senyatanya kerap bernegasi.
Wujud zaman yang
semakin mutakhir dan canggih juga menggiring kebudayaan berkelindan menyesuaikan
hingga mampu selaras-bebarengan. Maka, pendulum kebudayaan modern juga praktis
memasuki ranah pola keadaban masyarakat modern. Kepenanggungan jiwa belum ada
kala zaman baheula, misalnya. Dan, sekarang malah (dan seharusnya)
gencar menjadi tren untuk kemudian dianggap sebagai kebutuhan.
Jika hari ini
badan serta jiwa terlampau sehat-bugar, bukan mustahil dan tak menjamin esok
atau lusa akan sedemikian sama; untuk kemudian mengatakan diri ini bisa saja terkapar
di bangsal rumah sakit. Lalu di manakah unsur kebudayaan berupa pola hidup sehat
yang selalu membawa petuah bahwa semua hal -termasuk kesehatan- adalah misteri
dan tak terprediksi. Kelanggengan aspek terakhir inilah yang membuat orang
selalu cemas dan khawatir dengan sakit.
Misteri soal
seputar sakit (waktu, tempat, dan jenis penyakit) membawa dampak langsung dan
besar bagi kelangsungan kehidupan. Kita pun kerap tertimpa kemisteriusan itu
dalam aneka rupa pelaksanaan yang begitu cepat, ringkas, dan mendadak. Dan, berefek
domino dengan merusak fondasi ekonomi yang telah dibangun secara mapan. Dari
kebangkrutan finansial-lah, masalah-masalah lain praktis bermunculan.
###
Seorang ayah
seperti biasa di pagi hari bersiap pergi ke kantor dengan spirit dan keceriaan.
Para wajah binar berkumpul bersantap sarapan sekeluarga. Si ayah berjanji lusa
akan mengajak piknik sekeluarga. Tak lupa menjanjikan membelikan sepeda dan
komputer jinjing pada kedua putranya. Tapi, kegembiraan dan derai tawa itu
sekejap luntur. Si ayah tiba-tiba terkena serangan stroke setelah terjatuh di
kamar mandi.
Oh ayah, kini ia terbujur kaku separuh badan. Bicaranya tak jelas,
ia terancam kehilangan pekerjaan. Gajinya praktis akan ludes untuk keperluan
sehari-hari. Begitupun dengan tabungannya. Sedangkan aset-aset keluarga
terancam lenyap terjual lantaran tindakan medis pada stroke terlampau mahal.
Segala upaya penyembuhan dikerahkan. Tapi, sayangnya, proteksi
kesehatan tidak teranggar dengan cermat (baca: besar). Sepeda baru dan laptop
anyar tinggal kenangan terganti dengan obat-obat si ayah yang wajib ditebus. Si
ibu kini menjadi tulang punggung keluarga. Sementara dua putranya telah kehilangan
harapan untuk berpunya sepeda dan laptop baru. Terlebih juga akan merembet pula
ke masalah pembiayaan pendidikan kedua anaknya. Dalam waktu tak lama, keluarga
yang sebenarnya telah mapan secara ekonomi tersebut berkemungkinan terperosok
turun kasta menjadi keluarga miskin. Dalam sekejap segala impian dan rencana
buyar. Atau akan berdampak besar pula bila secara mendadak si anak terkena
aneka penyakit yang membutuhkan dana besar untuk tindakan medis. Hal ini juga
turut menguras secara sekejap keuangan keluarga.
Terdapat data cukup
memprihatinkan terkait sosok si tulang punggung sebagaimana rilis PT Jamsostek yang
menyatakan dalam tahun 2012 setiap hari ada 9 pekerja peserta Jamsostek yang
meninggal dunia akibat kecelakaan kerja. Sementara total kecelakaan kerja pada
tahun yang sama 103.000 kasus karena di Indonesia hanya 2,1 persen dari 15.000
perusahaan berskala besar yang menerapkan sistem manajemen keselamatan dan
kesehatan kerja (K3).
Sementara di
sisi lain, jumlah kecelakaan selama arus mudik 2013 telah merenggut nyawa 686
orang, luka berat 1.120 orang, dan 4.034 orang mengalami luka ringan. Kebutuhan-kebutuhan
mendadak akibat seperti itu juga menyebabkan bujet keluarga otomatis terkuras
untuk pemulihan kesehatan (recovery). Lebih memprihatinkan lagi bilamana
para korban itu merupakan para tulang punggung keluarga.
###
Bukankah hikayat demikian terbilang lumrah berkejadian yang tidak
hanya sekadar terlintas di cerita sinetron semata? Walaupun tak ada data pasti,
namun yang jelas, amatan serta awangan yang terjadi di lingkungan penulis
sendiri mewujud tidak hanya satu-dua gelintir kasus. Pun, hal itu belum ditambah
dengan amatan serta awangan di lingkungan Anda.
Di sinilah titik relevansi bahwa kesehatan keluarga perlu mendapat
prioritas. Seperti terjangan gempa dan tsunami yang tak pasti waktu
kedatangannya, sakit (parah) dalam lingkup kesehatan masyarakat terlebih di perkotaan
bukan saja mendadak; muncul tiba-tiba, tapi, rentan dan berkemungkinan tinggi.
Oleh karena itu, dibutuhkan sistem perlindungan kesehatan berupa asuransi
sebagai suatu hal yang prinsipil dan urgen yang mutlak segera direalisasikan.
Terlalu sembrono bila di musim penghujan, kita tak berpunya payung. Payung
itulah tamsil asuransi yang menjadi garansi untuk tetap “sehat” secara finansial
dalam konteks sebuah keluarga.
Pola kebudayaan hidup sehat hakikinya telah tertambat dalam
kearifan masyarakat Indonesia untuk kemudian berpadu pada keselarasan hidup
yang sekarang sudah terkikis. Tersebutlah apotek hidup; dengan menamam
tumbuh-tumbuhan di halaman belakang rumah sebagai alternatif budaya obat herbal
untuk tidak sesegera mendapat penanganan medis.
Kebudayaan kesehatan dalam aras demikian sudah menghilang terganti
dengan kepraktisan melalui obat kimiawi dan sarana kesehatan lain yang lebih
modern nan canggih. Atau lantaran kita tak berpunya lahan kosong sebagai
konsekuensi hidup pada kultur kaum urban. Walhasil, aspek inilah yang kiranya
berimbas pada minimnya perhatian pada kesehatan keluarga dalam tingkatan dasar.
Revolusi makanan kini
juga menjadi kebudayaan baru. Pergeseran itu berupa makanan cepat saji (junk
food) yang ternyata turut berandil besar menciptakan fenomena mutakhir
berupa obesitas. Terlebih pada masyarakat perkotaan yang menjadi konsumen
terbesar dengan kadar kepraktisan dan keinstanan. Makanan cepat saji dan instan
mendorong khalayak urban untuk mengkonsumsi makanan berkolesterol tinggi,
zat-zat pengawet, dan akan serta-merta memicu tingginya pengidap obesitas.
Kita pun mafhum obesitas adalah sejenis gudang yang menyimpan
potensi ragam penyakit berbahaya. Belum lagi kualitas udara di kota-kota besar terakibat
polusi dari kehidupan serba industri turut memicu rendahnya kualitas hidup
sehat. Hal tersebut belum ditambah dengan rutinitas kehidupan modern dengan beban
tinggi pekerjaan yang akan menstimulasi munculnya stres dan gangguan psikis.
Akses transportasi yang lambat dan kemacetan parah di hampir semua kota-kota
besar juga berandil menurunkan kualitas hidup sehat.
Cepat atau lambat kesemuanya itu akan berdampak sistemik dalam kesehatan
badan dan jiwa yang terus berkait dengan kesehatan keluarga serta berpengaruh pula
pada “kesehatan” anggaran rumah tangga yang menyedot banyak biaya. Oleh karena
itu, kesehatan mutlak menjadi aspek penting dan mendasar. Dan, hal tersebut di
mulai dari lingkup terkecil berupa keluarga.
Sayangnya, era
modern memaparkan bahwa kesehatan tetaplah barang mahal. Simaklah warta yang
mengabarkan biaya pemeriksaan kesehatan naik pesat dari tahun ke tahun. Laju
inflasinya dapat mencapai 20 persen per tahun (Kompas.com, 26/10/2013).
Artinya, biaya untuk berobat tahun ini lebih tinggi 20 persen ketimbang tahun
lalu. Maka menjadi wajar bila tidak sedikit orang yang harus menjual harta
bendanya untuk membayar biaya pengobatan.
Lalu kebudayaan
tersebut juga menyangkut keadaban perihal bagaimana tata cara agar harmonisasi
kehidupan tetap berlangsung. Maka proteksi keluarga dalam konteks kesehatan
mutlak menjadi bagian penting dan seharusnya terencana. Di sinilah kemitraan
dan aspek-aspek lainnya mewujudkan perlunya usaha-usaha berupa penjamin (dana)
kesehatan. Tersebutlah kemudian dengan istilah asuransi kesehatan.
Dalam konteks
demikian dan pertumbuhan perekonomian yang relatif mendukung, asuransi
kesehatan keluarga memiliki daya pikat serta menjadi primadona berdasar
beberapa parameter di atas. Sehingga kini, asuransi kesehatan bukan sebatas
dimiliki dan menjadi kebutuhan kaum borjuis-perkotaan, melainkan pula idealnya dalam
kasta ekonomi menengah-perdesaan.
Pertumbuhan ekonomi itu secara rinci dapat ditandai dengan kenaikan
jumlah masyarakat kelas menengah yang setiap tahun mencapai sekitar 7 juta
jiwa. Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) pada tahun 2012 jumlah kelas
menengah di Indonesia mencapai 60% dari jumlah penduduk Indonesia atau sekitar
135 juta jiwa. Sayangnya, atribut macam kebutuhan berupa asuransi apalagi
proteksi kesehatan keluarga terbilang rendah di sebagian kalangan menegah
lantaran belum teredukasi secara komprehensif bahwa asuransi sejatinya adalah
investasi, bukan konsumsi. Penguatan basis ekonomi juga bisa terlihat dari
laporan Global
Wealth Report yang dilansir Credit Suisse pada 2012, menyatakan:
jumlah orang kaya di Indonesia mencapai 104 ribu. Dan, diprediksi naik 99 %
atau menjadi 207 ribu orang kaya pada 2017.
Dengan melihat kecenderungan semakin naiknya tingkat perekonomian
di negeri ini alangkah disayangkan bila hal
tersebut tidak selaras dengan pemberian perlindungan proteksi kesehatan terutama
bagi keluarga -lantaran berdasar pola hidup kurang sehat masyarakat terutama di
perkotaan. Maka, seharusnya antara peningkatan perekonomian dan kesehatan
memiliki jalinan kuat yang membawa setidaknya dua konsekuensi: pertama, dampak
ekonomi yang besar mutlak ditunjang oleh kesiapan raga yang sehat pula. Sehingga
kesehatan tetap menjamin kegiatan ekonomi terus berjalan dan meningkat
(produktivitas). Dua, dengan ekonomi yang meningkat maka seharusnya membuka
peluang kesiapan untuk mengasuransikan kesehatan -keluarga.
Ada kalanya di
sebagian kalangan masih menggolongkan asuransi adalah konsumsi. Padahal asuransi
tak ubahnya sebagai investasi. Sementara di sisi lain sebagian kalangan masih
bingung (terkendala) perihal domain kelegalan agama: memilih asuransi syariah
atau konvensional. Maka sudah terlalu banyak asuransi berkonten syariah guna
menjawab kepastian dan kenyamanan para nasabah. Hal tersebut bisa terbaca
dengan baik kala merujuk pada asuransi Sun Life Financial sebagai
tamsil. Walau pada hakikatnya asuransi sudah bersyariah semenjak muasalnya
lantaran beresensi tolong-menolong. Kalaupun tak pernah mengajukan klaim,
bukankah dana tersebut (ternyata) juga tersalurkan bagi nasabah lain yang
membutuhkan.
Bukanlah mesti
diartikan sebagai penghambat atau kompetitor bila 1 Januari 2014 mulai
digulirkan UU BPJS yang mengakomodir penjaminan biaya kesehatan masyarakat
Indonesia. Sayangnya, cakupan detail layanan kesehatan BPJS yang akan
ditanggung belum jelas. Sementara di kalangan karyawan yang telah diikutkan
oleh perusahaannya seringkali belum sepenuhnya mencukupi atau sesuai kebutuhan
si karyawan dan keluarga. Faktor-faktor inilah yang mendorong bahwa asuransi kesehatan
(milik) swasta tetap berandil besar tanpa harus merasa semakin tersisih dari
ruang lingkupnya akibat akan diberlakukannya Jaminan Kesehatan Masyarakat (JKN)
tahun depan.
Terlepas dari
itu, untunglah kini, masyarakat semakin melek asuransi. Survei Kompas
medio 2011 menunjukkan sebanyak 84,8 persen masyarakat menganggap penting untuk
mengikuti program asuransi. Lebih lanjut, asuransi kesehatan justru menjadi
primadona untuk dimiliki dengan prosentase 42,5 persen jauh di atas kepemilikan
asuransi pendidikan dan asuransi jiwa. Survei tersebut juga menunjukkan bahwa
aspek kesehatan adalah hal terpenting lebih-lebih dalam sebuah keluarga.
Maraknya asuransi
kesehatan dan eksisnya asuransi (sosial) pemerintah lebih terlihat sebagai sebuah usaha yang berjalan dalam rel
masing-masing tanpa tersembul persaingan satu sama lain. Ibarat pembiayaan haji
di Indonesia, kita mengenal ONH reguler dan ONH plus -yang dikelola swasta. Keduanya
memang memberikan porsi kepada jemaah sesuai cakupan dan kebutuhan yang
dibutuhkan. Namun, tentunya ONH plus di atas segalanya tetap lebih terasa
“nyaman” dibanding ONH reguler lantaran ada banyak celah yang tidak bisa
dipenuhi oleh negara (ONH plus). Maka, asuransi kesehatan swasta macam Sun
Life Financial tetap mempunyai fungsi dan andil.
Walhasil, konklusi
atas semua hal di atas sebenarnya menghasilkan kebudayaan baru yang lebih dinamis.
Kebudayaan lampau terus mendistorsi aspek kemisterian dengan ragam peristiwa
yang serba mendadak dan mengubah secara drastis suatu kondisi. Namun, sekarang,
pergeseran kebudayaan telah mengakibatkan sebuah ketidakpastian sebagaimana
instrumen utama asuransi lebih-lebih pada asuransi kesehatan menjadi terjawab.
Kini, kemisterian
sakit telah berubah menjadi sebuah “investasi” dan “kenyamanan” untuk tidak
lagi dicemaskan atau dikhawatirkan sebagaimana zaman dahulu. Semua itu lantaran
asuransi kesehatan tak lain telah bertransformasi menjadi sebuah kebudayaan
baru, kebudayaan modern yang mutlak dan urgen dimiliki.