Minggu, 11 Mei 2014

Menjadi Istri Inspiratif



Perkembangan wacana mutakhir seputar perempuan dalam buku lebih menekankan perempuan harus “keluar rumah”. Meniti karier dan ikut berperan dalam urusan publik bersama kaum adam. Lebih lanjut, gagasan perihal emansipasi terus didengungkan lantaran selama ini perempuan lebih terkungkung dalam urusan rumah tangga semata.
Ditambah perempuan kini juga dituntut sensitif jender dengan pengkampanyean isu feminisme dan kesetaraan. Dalam beberapa kajian, isu-isu tersebut kerap membawa perempuan dalam sikap kebebasan yang kebablasan. Pun, tak jarang berdampak pada pudarnya ikatan perkawinan. Apalagi dewasa kini fenomena atas kawin-cerai, KDRT, dan perselingkuhan semakin merebak --yang konon ditengarai sebagai buah dari konsep kesetaraan jender yang kebablasan.
Namun, membaca buku Menjadi Istri Inspiratif adalah pengecualian. Buku yang ditulis Tessie Setiabudi kiranya mengembalikan dan mendedah ulang arti sekaligus posisi seorang istri ---yang maknanya semakin kabur tersebab wacana-wacana di atas. Pengalaman hidup selama 30 tahun di Amerika Serikat, Inggris, dan Singapura sebagai motivator keluarga ternyata tidak sekonyong-konyong membuat ia terbawa arus ide feminisme ekstrem. Hal itu bisa dilihat bagaimana ia memosisikan istri (masih) sebagai sekretaris dan bos tetaplah berada di pundak suami. Dengan artian, istri dituntut belajar memercayai suami untuk mengambil keputusan-keputusan penting dalam keluarga.
Tessie --yang seorang istri-- dalam bahasa tersirat hendak mengajak kaum hawa untuk sejenak instrospeksi dalam relasinya terhadap suami: sudah benarkah memperlakukannya selama ini --sebelum terlibat friksi. Buku yang ditulis berdasar riset dan pengalaman di tiga negara itu lantas mengurai delapan kesalahan yang biasa dilakukan si istri.
Namun, tidak kemudian si istri menjadi nirperan dan selalu tersalahkan. Tessie senyatanya memosisikan istri sebagai mitra suami. Istri diharap menjadi sahabat (penyemangat) di kala suami berduka; sebagai konsultan ketika suami diterpa masalah, dan tentunya sebagai lover; konsekuensi kodrat. Walhasil, buku tersebut semakin membenarkan ungkapan bahwa di balik pria sukses, ada istri yang luar biasa. Pun sebaliknya.

Senin, 07 April 2014

Indonesia Hebat, Dongengnya (Seharusnya) Menjagad



           
Indonesia adalah basis penyatuan ribuan suku. Di dalamnya terkandung banyak hikayat, terutama perihal cerita rakyat. Indonesia merupakan negara besar dalam wujud wilayah teritorial sampai penduduknya idealnya turut memainkan peranan pentig dalam kebudayaan global. Sayangnya, anak-anak kita sedari kecil lebih terakrabi cerita Cinderella, Putri Salju, Aladin, Hercules, dam Robin Hood.
Saya tak begitu yakin anak-anak kecil di Inggris, Perancis, Amerika Serikat, bahkan Malaysia tahu legenda Malin Kundang, Danau Toba, Timun Emas, Bawang Merah Bawang Putih. Padahal tema dongeng kita mengusung spirit kebaikan universal: ajaran berhormat kepada orang tua, misalnya. Bukankah ini sebuah kredit point tersendiri bagi cerita rakyat khas Indonesia bila dibanding dengan tema cinta-cintaan ala Cinderella.
Begitu pula dalam perkembangan hikayat kekinian. Anak-anak kita kembali tercekoki oleh jagoan-jagoan macam Power Rangers, Naruto, Batman, Superman. Lalu hendak dikemanakan andalan Indonesia macam Gundala Putera Petir kreasi Hasmi tahun 1969, atau Caroq ciptaan Ahmad Thoriq tahun 1992. Sayangnya, kedua jagoan asli Indonesia tersebut lebih terkesan mirip superhero asal Barat. Terkesan sebagai imitator.
Semua ini kiranya terjadi lantaran kebudayaan mereka lebih gencar dipromosikan. Cerita dari tanah antah-berantah tersebut kemudian diterjemahkan, difilmkan, dan dibuat kartun. Menyebar ke seantero jagad. Menjadi narasi tunggal bahwa dongeng mereka bisa diserap oleh anak-anak di seluruh dunia. Padahal sebenarnya kita kaya tema. Banyak referensi cerita yang beragam dan unik.
Saya membayangkan apabila cerita-cerita rakyat Indonesia bisa dicerna oleh anak-anak Amerika Serikat, maka betapa kuatnya kebudayaan kita di kancah internasional. Sayangnya, kita terkendala oleh faktor kreativitas dan promosi. Perlu ada kebijakan pemerintah untuk lebih mengakrabkan dongeng negeri sendiri bisa ternikmati dan tertanam kuat pada anak-anak kita melebihi narasi Putri Salju. Hal itu bisa dimulai dari pendidikan dasar dan terutama melalui media digital melalui produksi kartun.
Tanpa campur tangan pemerintah, musykil rasanya anak-anak kita lepas dari jeratan memori pukul-memukul seperti apa yang ditunjukkan kartun Tom and Jerry. Indonesia Hebat adalah karena sebenarnya ia mempunyai segudang hikayat atau dongeng yang mendidik dan penuh teladan moral. Sangat sesuai bagi pembelajaran dan pendidikan karakter dalam tumbuh kembang anak. Jangan sampai suatu saat anak kita lancar bercerita tentang legenda Putri Salju, namun tergopoh-gopoh menarasikan hikayat Malin Kundang. Atau jangan-jangan hal itu memang sudah terjadi? http://www.indonesiahebat.org

Indonesia Hebat, Indonesia Lezat



           
            Beberapa waktu lalu, CNN melalukan survei soal makanan terlezat seantero jagad. Kabar baik dan membanggakan lantaran rendang ditempatkan di posisi teratas. Mengalahkan sajian-sajian khas dari negara-negara lain. Menyingkirkan pizza dan spaghetti. Tidak ada apa-apanya dibanding bistik (beef steak), sosis, dan ayam goreng krispi yang tercap ke-Barat-baratan itu. Hamburger dengan tumpukan roti isi daging yang super praktis juga bukan tandingan rendang yang membutuhkan waktu memasak hingga berjam-jam plus kaya rempah. Tertanam imajinasi soal Indonesia lezat, Obama pun mengamininya. Dia penggemar berat nasi goreng, sate, dan bakso.
Kita begitu kaya raya soal urusan makanan dan cita rasa. Bila setiap suku mempunyai sajian tersendiri, kalikan saja dengan jumlah ribuan suku di Indonesia. Betapa kayanya kita memiliki selera tinggi dan sajian istimewa. Bagaimana dengan makanan ringan atau cemilan? Jangan abaikan bakpia Jogja, lumpia Semarang, serabi Solo, gethuk, dodol, lemper, kripik balado dan terlalu banyak untuk disebut di sini.
Sayangnya kita masih menganggap prestise makanan Barat. Hamburger teranggap cita rasa tinggi, kelas borjouis. Pizza dan spaghetti identik jajanan orang berpunya. Ayam goreng yang hanya diberi balutan tepung terstigma cemilan kaum berada. Bukankah kita juga punya sederet sajian dengan bahan baku berupa ayam yang digoreng. Tapi, kenapa sebagian kita lebih suka produk dari luar? Padahal, kebanyakan darinya tergolong rendah gizi (junk food), pastinya tak sehat, mengandung kolesterol tinggi, dan mengakibatkan obesitas. Sudah tahu bahaya, kok masih saja dikonsumsi.
           Kita butuh terobosan sekaligus keinsyafan. Bahwa sudah saatnya Negara melebihkan tenaga untuk mempromosikan sajian-sajian lezat masakan Indonesia kepada seluruh dunia lewat perwakilannya, diplomasi, dan mahasiswanya. Inilah yang kiranya disebut sebagai strategi kebudayaan, di mana tidak hanya asing saja yang bebas memasarkan produknya di sini, tapi, kita pun kudu berupaya sebaliknya. Negara perlu memberikan perhatian besar terutama terkait kemulusan akses ekspor. Bukankah sekarang gudeg dan rendang bisa dibuat praktis dengan sistem pengalengan dan dapat bertahan lama. Inilah yang saya maksud sebagai terobosan.
Soal minuman, bukankah aneka minuman macam soft drink yang rata-rata produk asing tersebut tidak baik bagi kesehatan. Minuman-minuman itu tentu kalah jauh soal kualitas baik rasa maupun unsur-unsurnya bila dibanding minuman khas Indonesia macam cendol, sekoteng, bajigur, beer pletok, es oyen, wedang ronde, dan terlalu banyak untuk disebutkan di sini.
Sayangnya dalam konsumsi sehari-hari, minuman khas Indonesia hanya menjadi minuman sekunder. Hanya menjadi minuman dengan pangsa pasar tersendiri. Sebagian kita lebih memilih minuman produk asing lantaran terakibat oleh alasan kepraktisan dan mungkin citra, prestise tinggi. Walhasil, ini adalah tantangan kita terutama bagi yang bergelut dalam produksi minuman tersebut dengan misalkan memproduksinya jadi lebih praktis, efisien, ekonomis, serta diproduksi massal. Hal ini tentunya membutuhkan dukungan Negara.
Indonesia Hebat sekaligus lezat lantaran kaya akan citarasa masakannya yang telah terakui dunia. Kita kiranya hanya kalah soal inovasi kepraktisan pengemasan serta promosi bila dibanding dengan makanan luar negeri yang memang efisien dalam penyajian. Namun, kita perlu insyaf bila menganggap makanan luar negeri macam di atas sebagai pembeda kelas sosial. Tak layak makanan bercita rasa tinggi kita dianggap kalah oleh makanan rendah gizi, makanan sampah. http://www.indonesiahebat.org

Indonesia Hebat, Bukan Great Indonesia


 
Bahasa bukan sekadar alat berkomunikasi. Namun, sekaligus simbol bagi si empunya. Disebut-sebut bila dua bahasa bertemu, tak ayal salah satu darinya akan kalah, tertindih. Kalah dalam artian ia sedikit-banyak akan dimasuki, dipengaruhi, dan menjadi bahasa asimilasi. Faktor penentunya soal tingkat kebudayaan dan peradaban: mana yang paling unggul dialah sang superior, pemenang. 
      Teknologi datang dari Barat. Kuasa Inggris sebagai bahasa turut serta dan memaksa seluruh penggunanya kudu menyesuaikan diri menerima sepenuhnya. Bukankah komputer, handphone, radio, televisi, charger, dan terlalu banyak lagi istilah-istilah tersebut berakhir menjadi bagian dari simbol dan alat komunikasi kita saban hari. Tak berhenti di situ, istilah-istilah bidang lain pun kita tak juga pandai memproduksi. Aksebilitas, kontinu, progres, dan masih terlalu banyak tentunya telah menjadi bahasa kita yang dibakukan. Entah sudah berapa ratus atau ribu kata istilah asing menjadi identitas keseharian kita. Apakah dengan demikian bahasa Indonesia memang patut tersemat sebagai bahasa termiskin alias kedodoran memproduksi kata dan istilah?
Ini bukan soal miskin, sanggah saya. Tapi perihal lemah dan malas mendayagunakannya. Lemah lantaran telah hinggap nalar inferioritas. Teranggap cerdas dan berwibawa manakala berkomunikasi sok-sok inggris, saya menyebut keminggris. Dan malas ketika bila semua istilah Inggris-nya langsung di-Indonesiakan begitu saja. Bukankah kita pernah mencipta “pencakar langit” untuk menyebut gedung yang teramat tinggi menjulang. “Wedhus gembel” guna menamai awan panas yang keluar saat erupsi gunung. “Emoh” sebagai pengganti setara mengatakan tidak; bukan “no”. Dan, sudah barang tentu “blusukan” bagi pemaknaan pimpinan yang turun ke bawah menyapa masyarakat.
            Indonesia itu luas. Terdiri dari ribuan suku. Misalkan ada 200 suku saja, berarti setidak-tidaknya kita mempuyai 200 bahasa yang berlainan. Itulah sebenarnya aset kita. Dan, kita perlu menggali lagi ribuan kata/istilah atas suatu hal yang masih sulit di-Indonesiakan namun sudah ada padanan katanya dari bahasa suku tertentu, misalnya. Ini adalah modal khazanah kebudayaan kita yang perlu lebih dieksplorasi lagi.
           Kita sudah banyak mengambil istilah asing macam: superior, inferioritas, erupsi, dan eksplorasi  yang kemudian termuat dalam Kamus Besar Bahasa Indoensia (KBBI). Maka, sekiranya tidak menambah lagi pencampuradukan bahasa hanya demi sebuah gengsi. Saya miris mendengar seorang artis ketika ditanya status hubungan dengan kekasihnya, dijawab: “So far hubungan kami baik-baik saja.” Mengapa tidak mengatakan: “Sejauh ini hubungan kami baik-baik saja.” Padahal Shofar adalah nama tetangga saya. Kenapa ia mesti libatkan. Sama persis pula sebagian kita manakala ditanya: “Lagi di mana?” Yang kerap dijawab: “OTW alias on the way.
            Arah menuju berbahasa Indonesia dengan benar-benar mencirikan karakter khas Indonesia memang sulit. Dibutuhkan peran Negara melalui undang-undang dan peran media massa sebagai alat kontrol sekaligus produsen kata yang ampuh mempengaruhi kendali bahasa suatu masyarakat.
       Dengan dua indikator: jumlah penduduk mencapai 230 juta lebih dan ragam suku-budaya, kita sebenarnya mampu menjadikan bahasa Indonesia –yang tidak lagi terpatri oleh unsur Melayu semata, namun meluas dan terambil dari ragam bahasa suku- menjadi pelaku, pemroduksi, dan pemain penting dalam skala bahasa internasional (minimal di kawasan ASEAN). Dengan begitu, bahasa Indonesia menjadi bahasa yang kaya kosakata dan kemudian dapat diserap oleh bahasa lain; bukan sebuah kemustahilan, bukan?. Kita kudu malu bila Indonesia hanya menyumbang satu kata dalam kamus bahasa internasional (bahasa Inggris) lewat kata “amok”. Padahal, kita dikenal santun dan ramah.
            Alhasil, saya pilih “ya” untuk “Indonesia Hebat” lantaran ia mempunyai warisan kekayaan bahasa- yang sayangnya masih tertimbun belum terpakai dalam alam bawah sadar terutama pada diri kaum mudanya. Sebagian mereka lebih memilih “Great Indonesia” dengan artian menonjolkan keminggrisnya dalam berkomunikasi. Lebih teranggap modern, katanya. Semoga saja hal itu hanya menimpa sebagian kecil pemuda. Karena sebagian besar lainnya kiranya masih menjadikan Sumpah Pemuda 1928 sebagai inspirasi dan wasiat untuk merawat bahasa Indonesia dari gempuran budaya asing. http://www.indonesiahebat.org/

Senin, 28 Oktober 2013

Asuransi Kesehatan Keluarga sebagai Urgensi Kebudayaan Modern




Oleh: Muhammad Itsbatun Najih

Hidup berkebudayaan menegaskan bahwa seluruh aspek kehidupan perlu ketatacaraan hingga mewujud pada harmonisasi dan kelangsungan bersama. Kesinambungan yang terus sejalan dengan tentunya memperhatikan kontekstualitas laju zaman. Maka, tidak semata selesai pada keajegan. Ada dimensi-dimensi lain yang sulit untuk diterka dan dicerna. Kita bisa menyebut sebagai sesuatu tak terduga, tak terprediksi, mendadak, atau bersifat misteri. Memang, senyatanya perencanaan hendaknya tetap diletakkan pada nilai-nilai idealis (das sein) meski perwujudan (das solen) senyatanya kerap bernegasi.
            Wujud zaman yang semakin mutakhir dan canggih juga menggiring kebudayaan berkelindan menyesuaikan hingga mampu selaras-bebarengan. Maka, pendulum kebudayaan modern juga praktis memasuki ranah pola keadaban masyarakat modern. Kepenanggungan jiwa belum ada kala zaman baheula, misalnya. Dan, sekarang malah (dan seharusnya) gencar menjadi tren untuk kemudian dianggap sebagai kebutuhan.
            Jika hari ini badan serta jiwa terlampau sehat-bugar, bukan mustahil dan tak menjamin esok atau lusa akan sedemikian sama; untuk kemudian mengatakan diri ini bisa saja terkapar di bangsal rumah sakit. Lalu di manakah unsur kebudayaan berupa pola hidup sehat yang selalu membawa petuah bahwa semua hal -termasuk kesehatan- adalah misteri dan tak terprediksi. Kelanggengan aspek terakhir inilah yang membuat orang selalu cemas dan khawatir dengan sakit.
            Misteri soal seputar sakit (waktu, tempat, dan jenis penyakit) membawa dampak langsung dan besar bagi kelangsungan kehidupan. Kita pun kerap tertimpa kemisteriusan itu dalam aneka rupa pelaksanaan yang begitu cepat, ringkas, dan mendadak. Dan, berefek domino dengan merusak fondasi ekonomi yang telah dibangun secara mapan. Dari kebangkrutan finansial-lah, masalah-masalah lain praktis bermunculan.
###
            Seorang ayah seperti biasa di pagi hari bersiap pergi ke kantor dengan spirit dan keceriaan. Para wajah binar berkumpul bersantap sarapan sekeluarga. Si ayah berjanji lusa akan mengajak piknik sekeluarga. Tak lupa menjanjikan membelikan sepeda dan komputer jinjing pada kedua putranya. Tapi, kegembiraan dan derai tawa itu sekejap luntur. Si ayah tiba-tiba terkena serangan stroke setelah terjatuh di kamar mandi.
Oh ayah, kini ia terbujur kaku separuh badan. Bicaranya tak jelas, ia terancam kehilangan pekerjaan. Gajinya praktis akan ludes untuk keperluan sehari-hari. Begitupun dengan tabungannya. Sedangkan aset-aset keluarga terancam lenyap terjual lantaran tindakan medis pada stroke terlampau mahal.
Segala upaya penyembuhan dikerahkan. Tapi, sayangnya, proteksi kesehatan tidak teranggar dengan cermat (baca: besar). Sepeda baru dan laptop anyar tinggal kenangan terganti dengan obat-obat si ayah yang wajib ditebus. Si ibu kini menjadi tulang punggung keluarga. Sementara dua putranya telah kehilangan harapan untuk berpunya sepeda dan laptop baru. Terlebih juga akan merembet pula ke masalah pembiayaan pendidikan kedua anaknya. Dalam waktu tak lama, keluarga yang sebenarnya telah mapan secara ekonomi tersebut berkemungkinan terperosok turun kasta menjadi keluarga miskin. Dalam sekejap segala impian dan rencana buyar. Atau akan berdampak besar pula bila secara mendadak si anak terkena aneka penyakit yang membutuhkan dana besar untuk tindakan medis. Hal ini juga turut menguras secara sekejap keuangan keluarga.
Terdapat data cukup memprihatinkan terkait sosok si tulang punggung sebagaimana rilis PT Jamsostek yang menyatakan dalam tahun 2012 setiap hari ada 9 pekerja peserta Jamsostek yang meninggal dunia akibat kecelakaan kerja. Sementara total kecelakaan kerja pada tahun yang sama 103.000 kasus karena di Indonesia hanya 2,1 persen dari 15.000 perusahaan berskala besar yang menerapkan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (K3).
Sementara di sisi lain, jumlah kecelakaan selama arus mudik 2013 telah merenggut nyawa 686 orang, luka berat 1.120 orang, dan 4.034 orang mengalami luka ringan. Kebutuhan-kebutuhan mendadak akibat seperti itu juga menyebabkan bujet keluarga otomatis terkuras untuk pemulihan kesehatan (recovery). Lebih memprihatinkan lagi bilamana para korban itu merupakan para tulang punggung keluarga.
###
Bukankah hikayat demikian terbilang lumrah berkejadian yang tidak hanya sekadar terlintas di cerita sinetron semata? Walaupun tak ada data pasti, namun yang jelas, amatan serta awangan yang terjadi di lingkungan penulis sendiri mewujud tidak hanya satu-dua gelintir kasus. Pun, hal itu belum ditambah dengan amatan serta awangan di lingkungan Anda.
Di sinilah titik relevansi bahwa kesehatan keluarga perlu mendapat prioritas. Seperti terjangan gempa dan tsunami yang tak pasti waktu kedatangannya, sakit (parah) dalam lingkup kesehatan masyarakat terlebih di perkotaan bukan saja mendadak; muncul tiba-tiba, tapi, rentan dan berkemungkinan tinggi. Oleh karena itu, dibutuhkan sistem perlindungan kesehatan berupa asuransi sebagai suatu hal yang prinsipil dan urgen yang mutlak segera direalisasikan. Terlalu sembrono bila di musim penghujan, kita tak berpunya payung. Payung itulah tamsil asuransi yang menjadi garansi untuk tetap “sehat” secara finansial dalam konteks sebuah keluarga.
Pola kebudayaan hidup sehat hakikinya telah tertambat dalam kearifan masyarakat Indonesia untuk kemudian berpadu pada keselarasan hidup yang sekarang sudah terkikis. Tersebutlah apotek hidup; dengan menamam tumbuh-tumbuhan di halaman belakang rumah sebagai alternatif budaya obat herbal untuk tidak sesegera mendapat penanganan medis.
Kebudayaan kesehatan dalam aras demikian sudah menghilang terganti dengan kepraktisan melalui obat kimiawi dan sarana kesehatan lain yang lebih modern nan canggih. Atau lantaran kita tak berpunya lahan kosong sebagai konsekuensi hidup pada kultur kaum urban. Walhasil, aspek inilah yang kiranya berimbas pada minimnya perhatian pada kesehatan keluarga dalam tingkatan dasar.
            Revolusi makanan kini juga menjadi kebudayaan baru. Pergeseran itu berupa makanan cepat saji (junk food) yang ternyata turut berandil besar menciptakan fenomena mutakhir berupa obesitas. Terlebih pada masyarakat perkotaan yang menjadi konsumen terbesar dengan kadar kepraktisan dan keinstanan. Makanan cepat saji dan instan mendorong khalayak urban untuk mengkonsumsi makanan berkolesterol tinggi, zat-zat pengawet, dan akan serta-merta memicu tingginya pengidap obesitas.
Kita pun mafhum obesitas adalah sejenis gudang yang menyimpan potensi ragam penyakit berbahaya. Belum lagi kualitas udara di kota-kota besar terakibat polusi dari kehidupan serba industri turut memicu rendahnya kualitas hidup sehat. Hal tersebut belum ditambah dengan rutinitas kehidupan modern dengan beban tinggi pekerjaan yang akan menstimulasi munculnya stres dan gangguan psikis. Akses transportasi yang lambat dan kemacetan parah di hampir semua kota-kota besar juga berandil menurunkan kualitas hidup sehat.
Cepat atau lambat kesemuanya itu akan berdampak sistemik dalam kesehatan badan dan jiwa yang terus berkait dengan kesehatan keluarga serta berpengaruh pula pada “kesehatan” anggaran rumah tangga yang menyedot banyak biaya. Oleh karena itu, kesehatan mutlak menjadi aspek penting dan mendasar. Dan, hal tersebut di mulai dari lingkup terkecil berupa keluarga.
            Sayangnya, era modern memaparkan bahwa kesehatan tetaplah barang mahal. Simaklah warta yang mengabarkan biaya pemeriksaan kesehatan naik pesat dari tahun ke tahun. Laju inflasinya dapat mencapai 20 persen per tahun (Kompas.com, 26/10/2013). Artinya, biaya untuk berobat tahun ini lebih tinggi 20 persen ketimbang tahun lalu. Maka menjadi wajar bila tidak sedikit orang yang harus menjual harta bendanya untuk membayar biaya pengobatan.
            Lalu kebudayaan tersebut juga menyangkut keadaban perihal bagaimana tata cara agar harmonisasi kehidupan tetap berlangsung. Maka proteksi keluarga dalam konteks kesehatan mutlak menjadi bagian penting dan seharusnya terencana. Di sinilah kemitraan dan aspek-aspek lainnya mewujudkan perlunya usaha-usaha berupa penjamin (dana) kesehatan. Tersebutlah kemudian dengan istilah asuransi kesehatan.
            Dalam konteks demikian dan pertumbuhan perekonomian yang relatif mendukung, asuransi kesehatan keluarga memiliki daya pikat serta menjadi primadona berdasar beberapa parameter di atas. Sehingga kini, asuransi kesehatan bukan sebatas dimiliki dan menjadi kebutuhan kaum borjuis-perkotaan, melainkan pula idealnya dalam kasta ekonomi menengah-perdesaan.
Pertumbuhan ekonomi itu secara rinci dapat ditandai dengan kenaikan jumlah masyarakat kelas menengah yang setiap tahun mencapai sekitar 7 juta jiwa. Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) pada tahun 2012 jumlah kelas menengah di Indonesia mencapai 60% dari jumlah penduduk Indonesia atau sekitar 135 juta jiwa. Sayangnya, atribut macam kebutuhan berupa asuransi apalagi proteksi kesehatan keluarga terbilang rendah di sebagian kalangan menegah lantaran belum teredukasi secara komprehensif bahwa asuransi sejatinya adalah investasi, bukan konsumsi. Penguatan basis ekonomi juga bisa terlihat dari laporan Global Wealth Report yang dilansir Credit Suisse pada 2012, menyatakan: jumlah orang kaya di Indonesia mencapai 104 ribu. Dan, diprediksi naik 99 % atau menjadi 207 ribu orang kaya pada 2017.
Dengan melihat kecenderungan semakin naiknya tingkat perekonomian di negeri ini  alangkah disayangkan bila hal tersebut tidak selaras dengan pemberian perlindungan proteksi kesehatan terutama bagi keluarga -lantaran berdasar pola hidup kurang sehat masyarakat terutama di perkotaan. Maka, seharusnya antara peningkatan perekonomian dan kesehatan memiliki jalinan kuat yang membawa setidaknya dua konsekuensi: pertama, dampak ekonomi yang besar mutlak ditunjang oleh kesiapan raga yang sehat pula. Sehingga kesehatan tetap menjamin kegiatan ekonomi terus berjalan dan meningkat (produktivitas). Dua, dengan ekonomi yang meningkat maka seharusnya membuka peluang kesiapan untuk mengasuransikan kesehatan -keluarga.
Ada kalanya di sebagian kalangan masih menggolongkan asuransi adalah konsumsi. Padahal asuransi tak ubahnya sebagai investasi. Sementara di sisi lain sebagian kalangan masih bingung (terkendala) perihal domain kelegalan agama: memilih asuransi syariah atau konvensional. Maka sudah terlalu banyak asuransi berkonten syariah guna menjawab kepastian dan kenyamanan para nasabah. Hal tersebut bisa terbaca dengan baik kala merujuk pada asuransi Sun Life Financial sebagai tamsil. Walau pada hakikatnya asuransi sudah bersyariah semenjak muasalnya lantaran beresensi tolong-menolong. Kalaupun tak pernah mengajukan klaim, bukankah dana tersebut (ternyata) juga tersalurkan bagi nasabah lain yang membutuhkan.
Bukanlah mesti diartikan sebagai penghambat atau kompetitor bila 1 Januari 2014 mulai digulirkan UU BPJS yang mengakomodir penjaminan biaya kesehatan masyarakat Indonesia. Sayangnya, cakupan detail layanan kesehatan BPJS yang akan ditanggung belum jelas. Sementara di kalangan karyawan yang telah diikutkan oleh perusahaannya seringkali belum sepenuhnya mencukupi atau sesuai kebutuhan si karyawan dan keluarga. Faktor-faktor inilah yang mendorong bahwa asuransi kesehatan (milik) swasta tetap berandil besar tanpa harus merasa semakin tersisih dari ruang lingkupnya akibat akan diberlakukannya Jaminan Kesehatan Masyarakat (JKN) tahun depan.
Terlepas dari itu, untunglah kini, masyarakat semakin melek asuransi. Survei Kompas medio 2011 menunjukkan sebanyak 84,8 persen masyarakat menganggap penting untuk mengikuti program asuransi. Lebih lanjut, asuransi kesehatan justru menjadi primadona untuk dimiliki dengan prosentase 42,5 persen jauh di atas kepemilikan asuransi pendidikan dan asuransi jiwa. Survei tersebut juga menunjukkan bahwa aspek kesehatan adalah hal terpenting lebih-lebih dalam sebuah keluarga.
Maraknya asuransi kesehatan dan eksisnya asuransi (sosial) pemerintah lebih terlihat  sebagai sebuah usaha yang berjalan dalam rel masing-masing tanpa tersembul persaingan satu sama lain. Ibarat pembiayaan haji di Indonesia, kita mengenal ONH reguler dan ONH plus -yang dikelola swasta. Keduanya memang memberikan porsi kepada jemaah sesuai cakupan dan kebutuhan yang dibutuhkan. Namun, tentunya ONH plus di atas segalanya tetap lebih terasa “nyaman” dibanding ONH reguler lantaran ada banyak celah yang tidak bisa dipenuhi oleh negara (ONH plus). Maka, asuransi kesehatan swasta macam Sun Life Financial tetap mempunyai fungsi dan andil.
Walhasil, konklusi atas semua hal di atas sebenarnya menghasilkan kebudayaan baru yang lebih dinamis. Kebudayaan lampau terus mendistorsi aspek kemisterian dengan ragam peristiwa yang serba mendadak dan mengubah secara drastis suatu kondisi. Namun, sekarang, pergeseran kebudayaan telah mengakibatkan sebuah ketidakpastian sebagaimana instrumen utama asuransi lebih-lebih pada asuransi kesehatan menjadi terjawab.
Kini, kemisterian sakit telah berubah menjadi sebuah “investasi” dan “kenyamanan” untuk tidak lagi dicemaskan atau dikhawatirkan sebagaimana zaman dahulu. Semua itu lantaran asuransi kesehatan tak lain telah bertransformasi menjadi sebuah kebudayaan baru, kebudayaan modern yang mutlak dan urgen dimiliki.