Judul buku: Bertambah Bijak Setiap Hari: 5 Matahari
Penulis: Budi S. Tanuwibowo
Penerbit :PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan: I, 2010
Tebal: xvi + 185 halaman
SALAH satu tanda orang bijak adalah selalu memperbaiki diri setiap hari. Hari ini harus lebih baik dari kemarin. Esok juga harus lebih baik dari hari ini dan seterusnya. Paradigma semacam ini patut menjadi renungan ketika dihadapkan atas realitas sosial yang melingkupi bangsa ini. Di mana orang Indonesia dulu dikenal ramah, gotong royong, dikenal mempunyai tanah yang subur, dan menjadi penganut setia demokrasi yang berorientasi pada tatanan masyarakat yang harmonis dan sejahtera. Tapi akan geli sendiri jika melihat fakta yang ada.
Mengapa ini semua bisa terjadi? Budi S. Tanuwibowo dengan bukunya yang berjudul Bertambah Bijak Setiap Hari: 5 Matahari, mencoba menawarkan solusinya terhadap berbagai kontradiksi di atas dengan konsep ‘lima matahari-nya’.
Lima matahari itu masing-masing adalah matahari dalam arti sebenarnya yang menjadi sumber energi dan kehidupan. Matahari kedua adalah cinta kasih atau Ren sehingga jiwa menjadi terang yang berimplikasi pada tutur dan laku yang baik pula. Matahari ketiga adalah adalah kearifan atau Zhi di mana kearifan di sini diartikan sebagai kelihaian dalam memahami dan menghormati orang lain.
Matahari keempat adalah Yong atau keberanian besar. Yong menuntun kita pada keberanian akan melakukan perubahan dan berinovasi. Keempat matahari tersebut barulah dianggap sempurna jika ilmu pengetahuan menjadi matahari pamungkasnya.
Maka menjadi lengkap bila antara ilmu pengetahuan, cinta kasih, kearifan, dan keberanian berjalan selaras dan saling menopang satu sama lain sehingga menjadi bekal dan kunci sukses dalam menjalani kehidupan sekarang ini yang semakin keras, penuh intrik, dan ketatnya kompetisi.
Tapi jika merunut berbagai aspek permasalahan bangsa ini tentu diperlukan kesadaran kolektif sesama anak bangsa. Mari cermati pendidikan di negeri ini jika ditilik pada substansinya yang kurang relevan. Pada wilayah pendidikan dasar khususnya, begitu teramat banyak mata pelajaran yang mesti dibebankan pada anak kita. Idealnya, pendidikan dasar pada Sekolah Dasar hanyalah tujuh macam mata pelajaran saja.
Ketujuh mata pelajaran tersebut ialah: budi pekerti, bahasa, musik, olahraga, matematika, sains, dan kewarganegaraan. Pendidikan dasar seperti inilah yang berpotensi besar pada kemunculan bibit-bibit yang unggul dan berkualitas demi pendidikan Indonesia kedepannya yang lebih baik.
Bagaimana dengan urusan gender yang akhir-akhir ini menjadi isu sentral sosial masyarakat Indonesia? Mengibaratkan pada sepasang sayap seekor burung bahwa antara laki-laki dan perempuan haruslah mempunyai peranan yang sama. Jika dewasa ini posisi perempuan kerap dianggap sebelah mata dan terpinggirkan, maka untuk mengembangkan sayap burung yang satu (perempuan) maka perempuan harus diberikan banyak porsi, diberi ruang sehingga pada akhirnya burung tersebut akan melesat terbang tinggi. Jika antara laki-laki dan perempuan diporsikan yang sama dan seimbang tentu kemajuan bangsa ini sebagai jaminannya.
Permasalahan lain yang diungkap adalah di mana kerusakan bumi ini yang semakin parah. Ada yang menarik yang telah diajarkan oleh leluhur kita yakni tentang sedekah bumi. Di mana para leluhur tersebut selalu memberikan sesaji sebagai wujud berterima kasih pada Yang Kuasa. Ini semua dimaknai bahwa para leluhur kita telah mengajarkan pada kita tentang kesyukuran dan upaya pemeliharaan alam. Namun, hal ini teramat sangat kontradiktif terhadap tindakan kita sekarang terhadap alam ini. Di mana berbagai kerusakan alam seperti yang sekarang ini sedikit banyak adalah akibat ulah kita juga. Maka untuk mengembalikan kesuburan alam seperti dulu tentu sulit di mana perlu waktu yang lama dan biaya yang tinggi. Tapi, jika ada kesadaran dan aksi nyata dari kita semua harapan itu belumlah pupus demi kelangsungan anak cucu kita nantinya.
Selain persoalan lingkungan, urusan sistem pemerintahan menarik pula untuk dibahas. Bagaimana membicarakan tentang demokrasi di negeri ini sungguh sangat ironis yang ternyata tidak sesuai harapan. Apa sebabnya? Kita sering mendahulukan dalam menuntut hak dari pada menjalani dulu apa yang seharusnya menjadi kewajiban kita. Ringkasnya demokrasi maupun sistem-sistem pemerintahan yang lain tidaklah sempurna, ada plus minus-nya. Jika demokrasi dianggap merupakan sistem yang terbaik dari sistem-sistem yang ada, maka demokrasi harus dilandasi dengan moralitas. Ini berarti jika demokrasi tidak disertai moralitas, maka demokrasi bisa disalahartikan dan membawa pada kehancuran kehidupan berbangsa dan bernegara.
Berbagai tema di atas tentang permasalahan keseharian kita tersebut dikemas dalam nuansa yang cair dan sama sekali tidak menggurui. Hal itu disebabkan karena tema-tema di atas dibawakan dalam bentuk layaknya cerita pendek dengan bumbu humor di dalamnya.
Buku yang disertai kata sambutan dari Presiden Republik Indonesia Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono ini setidaknya telah menjadi oase, penyejuk, cambuk, dan guru yang mengajari serta mengingatkan kita semua atas penyikapan berbagai masalah di sekitar kita yang selama ini seringkali kurang bijak menyikapinya menjadi diupayakan kian jauh lebih bijak.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar