Perihal : Harapan Seorang Bapak pada Anaknya
Tanggal : 6 Oktober 2010
Tempat : Di Gubuk Reot, Desa Ternadi, Kudus
Anakku tersayang,
Bila mentari masih setia menyinari esok hari, dan engkau akan mewarisi pancaran wajah lembut Ibumu laksana bintang film India, maka sudilah kiranya jika engkau pelihara pancaran itu setiap hari kepada Bapakmu ini nantinya.
Malam ini di tempat yang sunyi, ku tulis beberapa goresan sederhana yang nanti menjadi ikatan dan janji antara Bapak dan anaknya tercinta. Bolehlah jika Bapakmu ini seperti kebanyakan orangtua pada umumnya: Menceritakan segala harapan pada anaknya.
Oh, ya, dua bulan lalu, Ibumu entah kenapa beliau tiba-tiba sering mual, muntah dan kerap pula meminta ini dan itu kepada Bapakmu ini. Dan tahukah kamu, Nak, Ibumu itu mintanya yang macam-macam dan aneh-aneh. Minta buah-buahan yang Bapak harus cari kemana-kemana namun tidak ada yang jual. Bapak sebenarnya tahu kalau buah yang diminta Ibumu itu bukan pada musimnya. Tapi, Bapak harus pura-pura kelihatan berusaha agar Ibumu tidak terlalu kecewa berat.
Bapak akhirnya tahu jika Ibumu sebenarnya telah mengandung makhluk mungil. Dan tahukah kamu, jika kami berdua telah mempersiapkan semua hal yang diperlukan menanti kedatanganmu, Nak. Semua itu kami lakukan dengan penuh ....... Ah Bapak tak mau mengobral apa yang mau kami lakukan, Nak. Kami sedikit malu pada keadaan, maklum, semua itu kami persiapkan ala kadarnya. Tidak mewah.
Satu lagi yang sering membuat Bapakmu bingung: Harus ku beri nama yang seperti apa kamu nanti? Kami berdua bingung sekali, Nak. Bapak tak mau sembarangan memberimu nama. Namamu harus bagus, keren, dan kalau perlu beda dengan orang lain. Punya arti yang agung dan indah. Karena nama adalah doa. Dan jangan percaya pada kata-kata orang sebelah sana seperti William Shakespeare yang mengatakan apalah artinya sebuah nama.
Tapi yang terpenting adalah bagaimana Bapak bisa mengajarimu tentang berbagai hal apa saja. Karena Bapak yakin engkau akan menjadi anak yang cerdas, kritis, berani, dan bertanggungjawab.
Selepas engkau beranjak dari ayunan nanti, setelah engkau mampu berinteraksi sosial secara sederhana sampai umur enam tahun. Saat itulah Bapak dan juga Ibumu menempatkanmu di sekolahan yang jaraknya cukup dekat dari rumah mungil kita.
Di sekolah yang tidak sangat mewah itu, engkau akan mempunyai banyak teman sebaya. Artinya, Bapak ingin engkau menjadi terbiasa pada lingkungan sekitar nanti. Bapak harap engkau bisa bergaul dan berteman dengan mereka supaya engkau akan lebih terbuka pada lingkungan sosial serta pandai bersosialisasi.
Suatu saat nanti engkau juga pasti akan ditanya oleh Ibu Gurumu di SD: Apa cita-citamu, Nak?
Mungkin engkau bingung menjawab ingin jadi apa. Mau jadi dokter seperti lazimnya jawaban anak-anak kecil seusiamu, ingin jadi tentara, jadi guru atau jadi apa saja. Terserah kamu, Nak. Bapak yakin suatu saat kamu pasti akan menemukan pilihan yang tepat.
Oh, ya, di usia belia seusia SD, engkau perlu dibekali pendidikan tentang budi pekerti dan agama. Keduanya teramat sangat penting yang harus ditanamkan sejak dini.
Satu hal lagi yang perlu engkau ketahui: Engkau nantinya bukan sebagai anak dari keluarga kaya yang punya mobil, rumah mewah, dan punya aneka mainan yang mahal-mahal. Engkau harus siap pada identitas yang nantinya melekat pada dirimu bahwa Bapakmu ini adalah petani kecil. Dan Tuhan telah memutuskan kehendaknya demikian. Artinya, jika Bapakmu petani, maka jangan banyak merengek minta lauk-pauk yang enak-enak. Jangan minta paha ayam, soto, balado, atau apalah. Maka, harapan Bapak adalah sesuaikan lidahmu dengan sambal terasi, sayur bayam dan kerupuk. Biasakan pula seleramu dengan tempe, tahu, dan ikan asin tentunya.
Bolehlah kita nanti makan setidaknya paha ayam, tapi jarang-jarang saja, mungkin di waktu Bapak lagi panen padi. Bapak bukanlah petani yang punya lahan luas. Bapak hanya punya dua petak persawahan. Dan lainnya adalah lahan milik orang lain yang Bapak disuruh menggarapnya. Nanti hasil panennya dibagi dua.
Dan sekali lagi ini bukan kabar buruk buatmu dan jangan merasa rendah diri. Yakinlah, ada rencana besar dari Tuhan yang pastinya indah dan menyimpan hikmah yang besar jika engkau pandai bersyukur.
Oleh karena itu, Bapak akan sedikit bercerita tentang orang-orang yang sukses yang ternama di negeri ini. Tahukah engkau, Nak, jika sebagian dari mereka adalah produk asli kampung. Orangtua mereka juga merupakan petani seperti Bapakmu ini. Tapi, mereka bekerja keras serta belajar dengan tekun. Dan Tuhan selalu memberi penghargaan bagi orang-orang yang selalu mau berusaha. Nantinya, kamu juga akan bisa seperti mereka asal engkau mau belajar dengan sunguh-sunguh.
Kalau urusan ekonomi, setiap hari mulai dari masalah makan sampai kebutuhan rumah tangga lainnya, kita memang selalu pas-pasan. Tapi, untuk urusan pendidikan bagi engkau nantinya itu merupakan prioritas Bapak. Tidak bisa ditawar. Bapak akan berjuang sekeras mungkin guna bisa menyekolahkan kamu setinggi-tingginya.
Kalaupun nanti kamu akhirnya memilih jadi petani seperti Bapakmu ini, jadilah petani yang bisa mengelola lahan dengan baik. Kalau kamu jadi sarjana pertanian, maka, kamu harus ciptakan varietas-varietas unggulan dan bibit tanaman yang berkualitas. Maklum, Nak, petani sekarang nasibnya selalu tak menentu. Apalagi sekarang petani punya musuh baru. Cuaca tak menentu. Kata orang intelek: Ada anomali cuaca.
Kalaupun nanti kamu jadi pejabat yang memegang tampuk kekuasaan. Maka, jadilah pejabat yang baik. Pejabat yang baik adalah pejabat yang bisa mengayomi rakyatnya, pejabat yang pro rakyat dan merakyat serta punya nurani.
Tapi, Nak, Bapakmu dan tentunya Ibumu juga sering merasa miris sendiri ketika mendengar perilaku sebagian orang-orang kota. Di usia senjanya, orang-orang tua sering ditempatkan oleh anaknya di panti jompo.
Bagi Bapak, panti jompo adalah simbol kekurangajaran anak kepada orangtuanya. Coba pikir, sejak mulai bayi sampai usia dua tahun si Ibu selalu menggendong anaknya dan si Bapak banting tulang mencari nafkah demi menghidupi anak dan istrinya. Ketika si anak ngompol di tengah malam, dan si anak menangis keras, si Bapak dan Ibu tanpa dikomando akan bangun. Walau si anak mengompolinya, tapi mereka tidak akan marah sedikitpun. Mereka dengan sepenuh hati membersihkan lalu mengganti dengan popok yang baru. Waktu sakit pun orang tua pasti sedih. Sesegera mungkin pergi memeriksakannya ke dokter atau jika tidak punya uang, si Bapak kesana-kemari cari pinjaman agar anaknya bisa berobat. Namun, setelah dewasa dan mapan, si anak justru membalasnya dengan seperti itu.
Jika ada orangtua yang membentak memarahi anaknya itu bukan pertanda orangtua menerapkan kekerasan psikologis atau apalah namanya. Bukan pula sebagai wujud kesewenang-wenangan orangtua. Tapi justru sebagai wujud kasih sayang pada anaknya. Dan semoga engkau jangan seperti itu ya, Nak. Kalaupun nantinya engkau perlu mengingatkan kami yang mungkin salah tindak, ingatkanlah kami dengan penuh kesantunan.
Atau kalau kamu berupaya ingin membalas kasih sayang Bapak dan Ibumu, maka janganlah engkau hargai kasih sayang itu cukup hanya dengan lembaran-lembaran uang. Tetangga sebelah kita yang anaknya kerja di kota. Selalu mengirimi uang setiap bulannya pada orangtuanya. Tapi tahukah bahwa tetangga kita itu ternyata tidak merasa bahagia. Meskipun mendapat kiriman tiap bulannya, tapi yang justru ia butuhkan adalah kasih sayang, pelukan dan ciuman dari anak dan cucunya. Mudah-mudahan engkau selalu bisa menghargai orangtuamu ini dengan penuh ketulusan.
Terakhir, Nak. Jika maut telah menyergap Bapak atau Ibumu, satu hal yang telah kuajarkan kepada engkau dan guru ngajimu waktu kecil dulu, yaitu selalu doakan kami selalu agar dapat ‘hidup’ damai ‘di sana’. Jika itu engkau lakukan, maka bagi Bapak hal itu adalah bentuk kasih sayang yang paling sempurna dari anaknya.
Ah, Nak, sudah jam dua belas malam, Bapak mulai ngantuk. Ibumu ku lihat sudah tidur sejak dua jam yang lalu. Perutnya semakin membesar mengandungmu. Sesekali Bapak lihat tangannya yang halus meraba-raba perutnya sendiri.
Mungkin cukup sekian goresan sederhana dari Bapakmu ini. Maaf jika Bapak penuh harapan yang idealnya harus engkau penuhi. Tapi, percayalah ini semua demi kebaikan kamu juga kelak, Nak. Maaf juga atas tulisan Bapak yang jelek dan kurang bisa dibaca dan kurang bisa memahami tulisan Bapakmu ini yang tidak runtut, melompat-lompat, diulang-ulang, dan berputar-putar. Maklum, Bapakmu ini kan tak pernah mengenyam bangku kuliah. Dan baru malam ini, Bapakmu yang biasanya setiap hari memegang sabit dan cangkul kali ini memegang pulpen yang tintanya malah mau habis.
Bapak simpan goresan ini di sini. Di tempat yang tersembunyi yang Bapak yakin suatu saat nanti entah kapan engkau pasti akan menemukan surat ini kemudian membacanya dengan senyuum tulusmu dan mungkin disertai dengan cucuran air mata.
Bapakmu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar