Sebuah kapal bernama Mavi Marmara yang terdiri dari para pecinta perdamaian dari berbagai negara, etnis, maupun agama bersatu menuju Gaza. Mereka bertujuan untuk kemanusisan lalu tiba-tiba diserang oleh tentara Israel dengan alasan yang tidak masuk akal.
Untuk kesekian kalinya Israel kembali membuat rasa kemanusiaan masyarakat dunia tercabik-cabik. Setelah terakhir meluluh-lantakkan Gaza pada Januari 2009 lalu, kini Isreal baru saja menyerang kapal Mavi Marmara. Dua sikap kearoganan dan kekerasan itu masih belum ditambah dengan insiden sehari-hari antara tentara Israel yang bersenjata lengkap dengan para pemuda Gaza dengan batu dan ketapel.
Untuk kesekian kalinya pula, masyarakat dunia (pemimpin banyak negara) menyatakan menyesalkan akan tragedi kemanusiaan tersebut. Prihatin sekaligus mengutuk keras atas sikap Israel tersebut. Bahasa diplomatis yang kerap diartikan sebagai ‘bahasa ketakutan’ menghadapi kebrutalan Israel.
Ketka para petinggi negara atau badan–badan internasional mengalami kebuntuan, maka tak mengherankan jika masyarakat dunia bergegas dan terjun langsung. Mereka berkumpul di Kapal Mavi Marmara untuk satu tujuan, Yakni menyerahkan bantuan ke Gaza sebagai wujud representasi dari kepedulian atas sikap kemanusiaan. Kapal Mavi Marmara sekaligus menunjukkan betapa geramnya masyarakat dunia atas sikap Israel tersebut ketika cara-cara militer tentu tidak mungkin untuk ditempuh.
Unik memang, ketika Israel sebagai negara kecil secara geografis mampu menelanjangi kewibawaan Perserikatran Bangsa-bangsa (PBB) dan menginjak-injak kemanusiaan. Uniknya adalah ketika PBB tidak mampu menghentikan sikap arogan Israel tersebut. Puluhan resolusi PBB dan kecaman dunia internasional hanya menajadi angin lalu bagi Israel.
Semua ini terjadi begitu gamblang disebabkan adanya ‘ketidakadilan dunia’. Prinsip ini menjadi realita ketika Amerika Serikat (AS) bersikap diam dan justru tidak menyalahkan sikap Israel tersebut Sedangkan Amerika Serikat beserta sekutunya sendiri masih betah menjajah Irak dan Afghanistan. Soal nuklir Iran yang dipermasalahkan walau bertujuan damai sedangkan Isarel yang jelas-jelas meempunyai senjata nuklir dibiarkan begitu saja..
Amerika Serikat yang mengklaim dirinya sebagai polisi dunia yang idealnya mampu menciptakan keharmonisan antar bangsa-bangsa, menegakkan keadilan dan menjaga stabilitas keamanan dunia ternyata sebaliknya. Amerika Serikat yang selalu mengajarkan tentang Hak Asasi Manusia (HAM) kepada negera-negara yang dianggap kolot ternyata tidak mampu mempraktikkanya pada dirinya sendiri.
Memecahkan persoalan konflik Israel-Palestina sangat sulit, dan memakan waktu yang cukup lama. Ini dibuktikan dengan berbagai perundingan atau mediasi yang tidak mampu menghasilkan perdamaian apa-apa. Hal Ini lebih disebabkan oleh dominasi Amerika Serikat yang selalu mendukung segala sikap politik Israel.
Kunci dari semua ini adalah bagaimana ada kekuatan baru di tingkat global yang mampu menjadi kekuatan penyeimbang atas dominasi Amerika Serikat. Kalau itu terwujud, maka praktik kesewenang-wenangan Israel akan tereliminasi, dan jauh lebih dari itu, dominasi kesewenang-wenangan Amerika Serikat akan jauh berkurang yang membuka pintu lebar pada rasa keadilan dan keamanan dunia secara keseluruhan . Semoga ini bukanlah sebuah hal yang utopis belaka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar