Kamis, 03 Februari 2011

Buah Kejujuran

Sewaktu Abdul Qodir al-Jilani muda hendak pergi mencari ilmu ke Bagdad. Tiba-tiba di tengah perjalanan muncul segerombolan orang berkuda yang ternyata adalah perampok.
Salah seorang dari perampok menghampiri Abdul Qodir dan bertanya, “Apa yang kau bawa?” ucapnya keras. “Uang empat puluh dinar.” jawab Abdul Qodir singkat. “Kau taruh dimana?” tanya perampok lagi. “Kusimpan di sarung pedang di bawah lengan”. jawab Abdul Qodir mantap.
Rupanya perampok tersebut mengira Abdul Qodir sedang bergurau, lalu meninggalkannya begitu saja. Tak berselang lama datang lagi perampok yang lain menghampiri Abdul Qodir dan bertanya seperti perampok pertama. Jawaban Abdul Qodir pun sama persis seperti tadi. Ternyata ia pun juga tidak percaya dan meninggalkannya.
Kemudian kedua perampok tersebut melapor pada ketua mereka. Sehingga ketua perampok lalu memerintahkan anak buahnya memeriksa apa yang diucapkan Abdul Qodir. Akhirnya, mereka menemukan uang empat puluh dinar yang tersimpan di dalam sarung pedang di bawah lengan. Ketua perampok terheran-heran melihat kejujuran dan ketidak takutan Abdul Qodir.
“Apa yang membuatmu bicara apa adanya pada kami?” tanya ketua perampok. “Ibuku berpesan dengan sangat agar aku selalu jujur dimanapun, kapanpun dan kepada siapapun.” jawab Abdul Qodir.
Mendengar jawaban tersebut, ketua perampok itu mendadak menangis dan dengan suara terbata-bata berkata, “ Kamu yang masih muda tidak berani melanggar pesan ibumu, sedangkan aku sudah bertahun-tahun tidak peduli dengan pesan Tuhanku.” Akhirnya, dengan izin Allah, ketua perampok tadi menyatakan taubat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar