Apakah setiap kontestan bisa membuat visi dan misi untuk pilkada yang akan dihadapinya? Tentu, setiap calon kepala daerah tanpa melihat latar belakang pendidikannya cukup mudah untuk membuat hal semacam itu. Apalagi, bila visi dan misi tersebut diberikan sentuhan oleh konsultan politik, misalnya. Tentu, visi dan misi tersebut terkesan menjadi lebih berbobot.
Telah menjadi kebiasaan setiap calon kepala daerah untuk mempunyai visi dan misi yang tentunya memuat hal-hal yang selama ini menjadi keinginan rakyat. Kesejahteraan, pendidikan murah, biaya kesehatan terjangkau, bahkan sampai memakai embel-embel menggratiskannya menjadi inti dari setiap visi dan misi si calon
Penyampaian visi dan misi pada acara debat antar kandidat pilkada dilihat dari luarnya memang baik, karena untuk mempertajam dan menjelaskan secara lebih kongkret serta memperlihatkan kelihaian dalam beradu argumen dengan kandidat lainnya. Namun, hal itu justru menjadi hambar dan tanpa isi jika si calon mengingkari visi dan misinya. Ini disebabkan tidak ada sanksi yang tegas (sanksi hukum) kecuali sebatas sanksi moral saja.
Pertanyaan yang perlu diajukan adalah: Sudah berapa kali kira-kira kita ikut serta dalam berbagai pemilihan. Baik pemilihan anggota legislatif, presiden, kepala daerah sampai pemilihan kepala desa. Kemudian pertanyaan selanjutnya yang layak diajukan lagi adalah bagaimana hasil dari pemilihan tersebut. Sejauh mana efek dari visi misi tersebut. Apakah kontestan pemenang merealisasikan visi dan misinya yang mereka berikan selama masa kampanye.
Bukan bermaksud skeptis terhadap pemilihan kepala daerah dalam konteks ini. Melainkan mencoba mengkritisi apa yang telah terjadi di daerah-daerah lain. Banyak program yang ditawarkan (visi dan misi) namun hanya menjadi pepesan kosong belaka ketika sudah terpilih Kalau sudah begini rakyat tentu merasa dibohongi.
Salah satu upaya untuk meminimalisasi terhadap hal tersebut adalah ketika rakyat menjadi pemilih yang cerdas. Artinya rakyat menilai calon kepala daerahnya bukan melalui visi dan misi yang mereka tawarkan. Pasalnya, hampir semua calon kepala daerah tersebut mempunyai visi dan misi yang relatif sama. Apalagi ketika visi dan misi tidak menyentuh pada hal-hal yang konkret. Pemilih cerdas adalah ketika pemilih melihat dari rekam jejak mereka. Bagaimana sepak terjang mereka selama ini
Rekam Jejak
Rekam jejak (track record) merupakan kunci bagi pemilih untuk mengatasi kebingungannya karena semua calon mempunyai program yang pro rakyat. Rekam jejak ini meliputi: kepribadian, pendidikan, pemikiran, dan yang paling penting adalah kontribusinya yang positif pada rakyat selama ini.
Sehingga bila pemilih menggunakan cara rekam jejak untuk memilih mereka, tentu pemilih tidak akan kebingungan saat dihadapkan oleh berbagai visi dan misi yang kadang-kadang mustahil terwujud. Pemilih pun tidak akan terbuai oleh debat antar calon yang lebih mengandalkan aspek keahlian tutur dan bersilat lidah.
Dengan melihat pada rekam jejak si calon, tentu si pemilih akan mempunyai gambaran yang utuh dan riil pada sosok yang akan dipilihnya; Apakah selama ini si calon merupakan orang yang benar-benar peduli dengan nasib rakyat, mempunyai gagasan-gagasan yang bermanfaat untuk rakyat, ataukah si calon merupakan orang yang hanya sekadar coba-coba masuk dunia pemerintahan dan ambisius, serta selama ini kurang peduli terhadap nasib rakyat. Kemudian tiba-tiba mendadak menjadi peka sosial menjelang pilkada.
Semoga menjelang pilkada-pilkada di Sleman, Gunungkidul dan Bantul mampu melahirkan kepala daerah yang dimana dihasilkan dari pemilih yang cerdas. Pemilih yang memilih melalui aspek rekam jejak. Bukan visi misi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar