Kamis, 03 Februari 2011

Lagu Lama Anggota DPR

Logika apa yang harus dipakai oleh rakyat untuk mengamini rencana pemugaran gedung DPR senilai 1, 8 T. Gedung Nusantara I konon miring 7 derajat akibat dari guncangan gempa pada akhir 2009 lalu, selain alasan kelebihan kapasitas yang diakibatkan oleh jumlah anggota dewan sampai asisten pribadi maupun staf ahlinya.
Penalaran tentang polah anggota dewan menjadi tidak relevan ketika dikaitkan pada rekomendasi dari Kemen PU (Kementrian Pekerjaan Umum). Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menegaskan tidak mengatakan bahwa gedung Nusantara I DPR mengalami kemiringan 7 derajat. Rekomendasi audit konstruksi juga hanya mengusulkan perbaikan teknis biasa. Tidak ada usulan merenovasi gedung secara total.
Menjadi memalukan ketika DPR masih ngotot atas rencana tersebut. Sedangkan dari pihak yang berkompeten (Kemen PU) jelas-jelas menyatakan yang sebaliknya. Maka LSM macam ICW menengarai DPR telah melakukan kebohongan publik
Langkah DPR semacam ini bukan kali saja. Masih ingat tentang pengadaan komputer baru untuk anggota DPR senilai Rp 15 juta per-unit di awal tahun ini. Hal itu dinilai oleh sebagian kalangan sebagai pemborosan anggaran dan cuma gaya-gayaan saja. Tak cuma itu, publik juga tentunya masih ingat tentang renovasi terhadap rumah dinas anggota DPR yang berbiaya ratusan miliar rupiah.
Belum cukup itu, kita juga sering disuguhi oleh kebiasaan anggota DPR yang melakukan studi banding ke luar negeri yang menghabiskan miliaran rupiah. Studi banding ala anggota DPR tersebut dibungkus oleh misi guna perbaikan dan peningkatan kualitas kinerja anggota DPR. Apalagi studi banding tersebut tidak ada pelaporan yang dilakukan Dewan tiap kali usai melakukan kunjungan ke mancanegara.
Ironisnya, meski langkah-langkah pemborosan DPR seperti diatas menimbulkan pro kontra di masyarakat, bahkan di dalam internal anggota dewan sendiri, namun kenyataannya langkah tersebut tetap berjalan. Dari sinilah rakyat perlu menanyakan kepekaan nurani dari anggota Dewan. Masihkah nuraninya berdenyut?
Yang perlu kita kritisi sebagai yang diwakili oleh mereka adalah langkah pengehematan. Biaya 1,8 T tidaklah patut dikucurkan untuk merenovasi total gedung DPR. Sedangkan analisa sekaligus rekomendasi dari Kemen PU menyatakan hanya perlu perbaikan teknis biasa yang mungkin dalam takaran awam saja tidak sampai mencapai nilai triliun rupiah.
Sikap hemat DPR memang belum pernah ditampakkan kepada publik. Entah mungkin memakai adagium aji mumpung; mumpung masih menduduki kursi dewan kemudian seenaknya menganggarkan tanpa memedulikan penghematan anggaran. Maka tak ayal, rakyat makin dibuat gerah dan citra DPR semakin memburuk di mata rakyat.
Padahal, beberapa waktu lalu, DPR sudah berusaha hampir berhasil mengembalikan kepercayaan rakyat lewat pansus skandal Bank Century. Publik dibuat terperangah oleh aksi-aksi anggota Dewan yang berusaha keras membongkar skandal Bank Century tersebut. Namun, hal itu kontras dengan dinamika politik yang berkembang akhir-akhir ini yang berujung pada wacana pemeti-eskan kasus tersebut yang justru dilontarkan oleh pihak yang selama ini getol terhadap pengungkapan skandal Bank century itu.
Seperti halnya langkah-langkah pemborosan DPR seperti di atas, Pro kontra renovasi total gedung Nusantara I senilai 1, 8 Triliun tampaknya akan tetap berjalan sesuai yang direncanakan. Teramat sulit bagi rakyat untuk berharap kembali pada anggota Dewan untuk melihat kondisi bangsa yang semakin terpuruk. Semoga dugaan ini tidak terbukti.

Muhammad Itsbatun Najih
Mahasiswa Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar