Selebriti Ayu Azhari dengan langkah mantap menyalonkan diri dalam pilkada Sukabumi. Ia digadang-gadang oleh PDI-P untuk menduduki jabatan sebagai calon wakil bupati Sukabumi. Inul Daratista, penyanyi dangdut asal Jawa Timur ini pun mengikuti jejak Ayu Azhari dalam pilkada Kabupaten Malang. Tak tanggung-tanggung, kursi bupati menjadi incarannya.
Tampaknya, mereka berdua ingin meniru jejak para artis lainnya ikut serta dalam percaturan politik di tingkat daerah. Kesuksesan Dede Yusuf merengkuh Wakil Gubernur Jawa Barat dan Rano Karno yang menjadi orang nomor satu dalam pemerintahan di Kabupaten Tangerang seakan menjadikan spirit dan mental yang kuat bagi kaum artis lainnya untuk ikut serta dalam pilkada.
Hal ini belum ditambah oleh banyaknya artis yang menembus kursi parlemen.
Sebagai warga negara Indonesia, tentunya siapapun berhak untuk memilih dan dipilih. Implikasinya, perkara darimana latar belakang mereka dan profesinya menjadi urusan yang tidak begitu penting dipermasalahkan.
Fenomena yang juga cukup unik menjelang pilkada di beberapa tempat adalah ketika banyaknya calon kontestan pilkada berasal dari istri-istri para incumbent. Boleh jadi, ini merupakan bentuk dari pelanggenggan kekuasaan dalam bentuk yang halus. Ini dikarenakan incumbent sudah berkuasa selama dua kali periode dan tidak diperkenankan melanjutkannya lagi.
Apalagi, jika sosok incumbent sudah mempunyai ‘nama baik’. Maka akan mempermulus langkah istri incumbent tersebut dalam pencalonannya. Bahkan disinyalir, kalau pencalonan istri-istri incumbent ini sukses, maka gejala ‘pemimpin boneka’ akan terasa. Hal ini dikarenakan faktor suami yang sudah berpengalaman akan justru mendominasi pada setiap kebijakan pemerintahan sang istri.
Visi dan Misi
Apakah setiap calon bisa membuat visi dan misi untuk pilkada yang akan dihadapinya? Tentu, setiap calon tanpa melihat latar belakang pendidikannya cukup mudah untuk membuat hal semacam itu. Apalagi, bila visi dan misi tersebut diberikan sentuhan oleh konsultan politik, misalnya. Tentu, visi dan misi tersebut terkesan menjadi lebih berbobot.
Telah menjadi kebiasaan setiap calon untuk mempunyai visi dan misi yang tentunya memuat hal-hal yang selama ini menjadi keinginan rakyat. Kesejahteraan, pendidikan murah, biaya kesehatan terjangkaum, bahkan sampai memakai embel-embel menggratiskannya menjadi inti dari setiap visi dan misi si calon
Penyampaian visi dan misi pada acara debat antar kandidat pilkada dilihat dari luarnya memang baik, karena untuk mempertajam dan menjelaskan secara lebih kongkret serta memperlihatkan kelihaian dalam beradu argumen dengan kandidat lainnya. Namun, hal itu justru menjadi hambar dan tanpa isi jika si calon mengingkari visi dan misinya. Ini disebabkan tidak ada sanksi yang tegas (sanksi hukum) kecuali sebatas sanksi moral saja.
Ketika masa kampanye, tentu si calon akan sering terjun ke bawah; melihat- lihat pasar tradisonal yang kumuh dan becek, misalnya. Mendengar keluhan pedagang kecil kemudian menyampaikan visi dan misi (janji). Dan si calon berjanji akan memperbaiki nasib mereka.
Rekam Jejak
Rekam jejak (track record) merupakan kunci bagi pemilih untuk mengatasi kebingungannya karena semua calon mempunyai program yang pro rakyat. Pemilih yang cerdas adalah pemilih yang bisa menilai calon kandidat dari rekam jejaknya. Rekam jejak ini meliputi: kepribadian, pendidikan, pemikiran, dan yang paling penting adalah kontribusinya yang positif pada rakyat selama ini.
Sehingga bila pemilih menggunakan cara rekam jejak untuk memilih mereka, tentu pemilih tidak akan kebingungan saat dihadapkan oleh berbagai visi dan misi yang kadang-kadang mustahil terwujud. Pemilih pun tidak akan terbuai oleh debat antar calon yang lebih mengandalkan aspek keahlian tutur dan bersilat lidah.
Dengan melihat pada rekam jejak si calon, tentu si pemilih akan mempunyai gambaran yang utuh dan riil pada sosok yang akan dipilihnya; Apakah selama ini si calon merupakan orang yang benar-benar peduli dengan nasib rakyat, mempunyai gagasan-gagasan yang bermanfaat untuk rakyat, ataukah si calon merupakan orang yang hanya sekadar coba-coba masuk dunia pemerintahan dan ambisius, serta selama ini kurang peduli terhadap nasib rakyat. Kemudian tiba-tiba mendadak menjadi peka sosial menjelang pilkada.
Semoga fenomena-fenomena yang menggelitik menjelang pilkada-pilkada seperti diatas segera menjadi perhatian bersama (pemilih) tentang pentingnya menilai profil si calon kepala daerah dari rekam jejaknya selama ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar