Kamis, 03 Februari 2011

Pemimpin yang Kompeten

Posisi pemimpin sampai kapanpun akan tetap menjadi incaran. Betapa tidak? Dengan memimpin, semua keinginan bisa tercapai. Bisa memerintah siapapun. Keuntungan finansial dapat diraih. Menjadi populer dan disegani semua lapisan masyarakat. Barangkali itulah kiranya yang menyebabkan orang berlomba-lomba mencalonkan diri menjadi pemimpin.
Kalau benar-benar seperti itu motifnya, maka bisa dipastikan sebuah negara atau organisasi akan hancur. Karena, masalah kompetensi diabaikan. Sebenarnya, dalam urusan mencari pemimpin, Islam telah menetapkan syaratnya. Ada sebuah hadits yang cukup terkenal. “ Apabila kamu menyia-nyiakan amanat, maka tunggulah waktunya. Ada sahabat yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang disia-siakan itu?” Nabi menjawab, “ Apabila urusan itu diberikan kepada orang yang bukan haknya (ahlinya) , maka tunggulah waktunya (kehancuran)” (HR. Bukhari).
Dari hadits tersebut dapat kita simpulkan bahwa syarat menjadi pemimpin tidak asal-asalan alias harus mempunyai kompetensi. Sehingga pemimpin yang kompeten menuntut pada sebuah keahlian dalam memahami masalah-masalah yang dipimpin serta mampu memecahkannya. Kalau tak paham masalahnya atau justru tak becus membawa perubahan yang lebih baik, maka pemimpin seperti patut kita curigai apa motifnya.
Sebagian orang masih mengesampingkan urusan kompetensi dalam mencari pemimpin. Tak peduli apakah dia akan benar-benar mampu memimpin atau tidak. Faktor terpenting adalah asalkan mempunyai kekayaan melimpah atau dari keturunan orang yang berpengaruh. Paradigma inilah yang harus diubah.
Ibnu Taimiyah dalam as-Siyasah as- Syar”iyyah pernah berkomentar: “Setiap orang yang memegang satu urusan dari urusan kaum muslimin , baik yang telah disebutkan ataupun lainnya, wajib menempatkan orang-orang yang paling baik (mampu) pada bidang tersebut dan pada bidang- bidang dibawahnya.”
Kita seharusnya mengambil contoh dari suatu bangsa yang mencari pemimpinnya bersadarkan kompetensi. Seperti bangsa Arab yang menjadikan Nabi Muhammad sebagai kepala negara. Hasilnya, bangsa Arab pun menjadi bangsa yang besar dan sejahtera.
Sekali lagi, pemimpin tidak harus dari orang kaya atau keturunan siapa. Tapi pemimpin mutlak harus mempunyai kompetensi. Karena itu, jangan pernah mencoba menjadi pemimpin kalau merasa tak mempunyai kompetensi atau bukan ahlinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar