Data buku:
Judul: 12 Menit
Penulis: Oka
Aurora
Penerbit: Noura
Books, Jakarta
Cetakan:
Pertama, Mei 2013
Tebal: xiv +
348 halaman
Peresensi:
Muhammad Itsbatun Najih*
Bercerita pada
lokus yang nun jauh dari gemerlap ingar-bingar perkotaan, Oka Aurora
mengisahkan eksotisme Bontang, Kalimantan Timur. Justru dari sanalah akan
muncul serombongan anak muda yang siap mengalahkan anak Jakarta. Mereka adalah
anggota marching band.
Bukan lantas
serba ujug-ujug mereka adalah para ahli yang sedari awal lihai bermain
alat musik dan sigap baris-berbaris. Namun, mereka datang dalam keadaan yang
timpang satu sama lain dan alpa bermusik. Pun, bukan perkara gampang masuk
sebagai anggota marching band. Tapi, diharuskan melibatkan diri terlebih
dulu pada gemblengan sebagai anggota cadet band, semacam persiapan
memasuki dunia marching band.
Tara, misalnya,
menghabiskan waktu setahun dalam kawah candradimuka cadet band. Tara pun
masih amatir dalam pengenalan nada-nada snare drum sebagai elemen dasar marching
band. Namun, Tara dan anggota lain punya kesamaan: tekad juang untuk
semaksimal mungkin memberikan yang terbaik. Hal itulah yang menjadi pengikat
sekaligus nyawa antaranggota marching band.
Bibit-bibit
potensial itulah yang coba dilirik oleh Rene, salah satu tokoh utama sekaligus
berperan sebagai pelatih andal marching band. Adalah berbeda rasa
manakala seorang pelatih mengantarkan sebuah tim menjadi juara pertama apabila
dihuni oleh para atlet profesional; sebuah kewajaran. Namun, pelatih terbaik
ialah tatkala sukses membawa anak asuhnya mulai dari tingkat dasar untuk
kemudian menduduki podium juara.
Dus, berkat
ketekunan dan kepiawaian Rene, sebuah kelompok marching band asal daerah dengan anggota yang bisa dibilang
amatiran berhasil meraih kesempatan untuk menantang anak kota; anak Jakarta,
dengan iukt serta berlaga dalam perhelatan tahunan Grand Prix Marching Band
(GPMB) yang bertempat di Istora Senayan.
Ada
denyut konflik, kecemasan, sekaligus ketegangan. Bumbu-bumbu itulah yang lumrah
terjadi untuk mengingatkan bahwa prestasi besar tidak datang secara mudah dan meski
dengan perencanaan matang. Lahang, anggota marching band, berada
dalam keraguan akut. Jelang keberangkatan ke Jakarta, kabar duka mendatanginya,
orang paling dihormatinya telah tiada. Kehilangan seorang Ayah di detik-detik
di mana Lahang diharap membuat sang ayah tersenyum bangga. Lahang harus memilih
antara mengikuti ajang GPMB atau kembali pulang untuk menghadiri acara pemakaman.
Ada petuah yang
terselip dalam 12 Menit: bahwa keluarga
adalah faktor terpenting dalam perjalanan karier si anak. Ayah Lahang adalah
potret lazim bagaimana dukungan keluarga memberi andil besar kesuksesan si anak.
Lahang mencoba berpikir untuk pulang ke kampung melihat untuk terakhir kali
sosok sang ayah. Untuk apa berharap angkat piala apabila sang tercinta tidak
turut menyaksikan.
Namun, ada
ungkapan menarik yang ditulis Oka sehingga membuat Lahang memutuskan tetap terbang
ke Jakarta: "Kalau saya pulang sekarang, saya tak punya apa-apa. Saya
bukan siapa-siapa" (hal: 321).
Peran vital keluarga juga terpapar jelas di bab akhir 12 Menit
ketika hampir semua keluarga para anggota Marching Band Bontang Pupuk
Kaltim datang untuk menyaksikan anaknya
berperforma. Tapi di bab kulminasi itu pula, Oka terlalu disayangkan kurang
begitu greget mengeksplorasi jiwa pembaca untuk ikut serta menegang
layaknya ketegangan penonton yang berdiri di Istora Senayan. Hal ini lantaran
narasi penampilan anak asuh Rene di momen puncak itu terasa tidak mendetail.
Nuansa ketegangan
baru dipaparkan Oka saat menyorot sesi penjurian. Tak ada kesepakatan atau aklamasi
suara dewan juri; terjadi adu argumentasi yang tajam. Sebagian dewan juri menilai
terdapat banyak kelemahan performa Marching Band Bontang Pupuk Kaltim.
Padahal saat unjuk penampilan, seluruh penonton sontak meneriakkan Vincero,
tanda ketakjuban; sebuah hal yang kontradiktif, bukan? Sayang pula, pemaparan 12
Menit lebih tampak seperti skenario film daripada gaya narasi sebuah novel.
Sama
seperti novel-novel inspirasi lainnya, di mana happy ending menjadi
muara dengan keberhasilan anak asuh Rene ditahbiskan sebagai juara pertama. Namun,
inspirasi senyatanya bukan pencapaian sebagai pemenang, melainkan pada latihan
keras selama 12 bulan demi berlaga hanya selama 12 menit; arti mendalam sebuah penghargaan
pada proses.
12
Menit pun menjadi pelopor tema inspirasi yang tidak datang dari perorangan,
melainkan berdasar banyak orang pada aksentuasi kekompakan, persahabatan, dan
perjuangan. Dus, 12 Menit mengakhiri kelatahan tema inspirasi perorangan
-menceritakan masa kecil yang susah sampai mampu menggengam kesuksesan- yang belakangan marak dijadikan subyek
penceritaan novel.
Jika novel inspirasi
model perorangan lekas berada dalam titik lemah berupa narsisme dan egoisme si
tokoh utama novel, maka, 12 Menit menghadirkan keegaliteran dan
kebersamaan. Itulah kelebihan novel 12 Menit yang didalamnya sengaja ditambahkan
glosarium dunia marching band agar pembaca ternyamankan dalam menikmati
novel yang beraksentuasi warna kover biru menawan.
*Pecinta Buku;
Penikmat Sastra, tinggal di Yogyakarta
NB: Resensi ini diikut sertakan dalam
Lomba Menulis Resensi Novel 12 Menit (Noura Books)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar