Jumat, 30 Agustus 2013

12 Bulan untuk 12 Menit





Data buku:
Judul: 12 Menit
Penulis: Oka Aurora
Penerbit: Noura Books, Jakarta
Cetakan: Pertama, Mei 2013
Tebal: xiv + 348 halaman
Peresensi: Muhammad Itsbatun Najih*



       
        Dalam buku berjudul Outliers, Malcolm Gladwell memaparkan rekaan hitungan rinci untuk menjadi sang ahli di suatu bidang membutuhkan ketekunan selama 10.000 ribu jam. Namun, teori tersebut ternyata tidak terbukti pada narasi novel 12 Menit. Tak butuh waktu sebanyak itu untuk mengangkat trofi juara pertama.
Bercerita pada lokus yang nun jauh dari gemerlap ingar-bingar perkotaan, Oka Aurora mengisahkan eksotisme Bontang, Kalimantan Timur. Justru dari sanalah akan muncul serombongan anak muda yang siap mengalahkan anak Jakarta. Mereka adalah anggota marching band.
Bukan lantas serba ujug-ujug mereka adalah para ahli yang sedari awal lihai bermain alat musik dan sigap baris-berbaris. Namun, mereka datang dalam keadaan yang timpang satu sama lain dan alpa bermusik. Pun, bukan perkara gampang masuk sebagai anggota marching band. Tapi, diharuskan melibatkan diri terlebih dulu pada gemblengan sebagai anggota cadet band, semacam persiapan memasuki dunia marching band.
Tara, misalnya, menghabiskan waktu setahun dalam kawah candradimuka cadet band. Tara pun masih amatir dalam pengenalan nada-nada snare drum sebagai elemen dasar marching band. Namun, Tara dan anggota lain punya kesamaan: tekad juang untuk semaksimal mungkin memberikan yang terbaik. Hal itulah yang menjadi pengikat sekaligus nyawa antaranggota marching band.
Bibit-bibit potensial itulah yang coba dilirik oleh Rene, salah satu tokoh utama sekaligus berperan sebagai pelatih andal marching band. Adalah berbeda rasa manakala seorang pelatih mengantarkan sebuah tim menjadi juara pertama apabila dihuni oleh para atlet profesional; sebuah kewajaran. Namun, pelatih terbaik ialah tatkala sukses membawa anak asuhnya mulai dari tingkat dasar untuk kemudian menduduki podium juara.
Dus, berkat ketekunan dan kepiawaian Rene, sebuah kelompok marching band asal daerah dengan anggota yang bisa dibilang amatiran berhasil meraih kesempatan untuk menantang anak kota; anak Jakarta, dengan iukt serta berlaga dalam perhelatan tahunan Grand Prix Marching Band (GPMB) yang bertempat di Istora Senayan.
          Ada denyut konflik, kecemasan, sekaligus ketegangan. Bumbu-bumbu itulah yang lumrah terjadi untuk mengingatkan bahwa prestasi besar tidak datang secara mudah dan  meski  dengan perencanaan matang. Lahang, anggota marching band, berada dalam keraguan akut. Jelang keberangkatan ke Jakarta, kabar duka mendatanginya, orang paling dihormatinya telah tiada. Kehilangan seorang Ayah di detik-detik di mana Lahang diharap membuat sang ayah tersenyum bangga. Lahang harus memilih antara mengikuti ajang GPMB atau kembali pulang untuk menghadiri acara pemakaman.
Ada petuah yang terselip dalam 12 Menit: bahwa keluarga adalah faktor terpenting dalam perjalanan karier si anak. Ayah Lahang adalah potret lazim bagaimana dukungan keluarga memberi andil besar kesuksesan si anak. Lahang mencoba berpikir untuk pulang ke kampung melihat untuk terakhir kali sosok sang ayah. Untuk apa berharap angkat piala apabila sang tercinta tidak turut menyaksikan.
Namun, ada ungkapan menarik yang ditulis Oka sehingga membuat Lahang memutuskan tetap terbang ke Jakarta: "Kalau saya pulang sekarang, saya tak punya apa-apa. Saya bukan siapa-siapa" (hal: 321). Peran vital keluarga juga terpapar jelas di bab akhir 12 Menit ketika hampir semua keluarga para anggota Marching Band Bontang Pupuk Kaltim  datang untuk menyaksikan anaknya berperforma. Tapi di bab kulminasi itu pula, Oka terlalu disayangkan kurang begitu greget mengeksplorasi jiwa pembaca untuk ikut serta menegang layaknya ketegangan penonton yang berdiri di Istora Senayan. Hal ini lantaran narasi penampilan anak asuh Rene di momen puncak itu terasa tidak mendetail.
Nuansa ketegangan baru dipaparkan Oka saat menyorot sesi penjurian. Tak ada kesepakatan atau aklamasi suara dewan juri; terjadi adu argumentasi yang tajam. Sebagian dewan juri menilai terdapat banyak kelemahan performa Marching Band Bontang Pupuk Kaltim. Padahal saat unjuk penampilan, seluruh penonton sontak meneriakkan Vincero, tanda ketakjuban; sebuah hal yang kontradiktif, bukan? Sayang pula, pemaparan 12 Menit lebih tampak seperti skenario film daripada gaya narasi sebuah novel.   
          Sama seperti novel-novel inspirasi lainnya, di mana happy ending menjadi muara dengan keberhasilan anak asuh Rene ditahbiskan sebagai juara pertama. Namun, inspirasi senyatanya bukan pencapaian sebagai pemenang, melainkan pada latihan keras selama 12 bulan demi berlaga hanya selama 12 menit; arti mendalam sebuah penghargaan pada proses.
            12 Menit pun menjadi pelopor tema inspirasi yang tidak datang dari perorangan, melainkan berdasar banyak orang pada aksentuasi kekompakan, persahabatan, dan perjuangan. Dus, 12 Menit mengakhiri kelatahan tema inspirasi perorangan -menceritakan masa kecil yang susah sampai mampu menggengam kesuksesan-  yang belakangan marak dijadikan subyek penceritaan novel.
Jika novel inspirasi model perorangan lekas berada dalam titik lemah berupa narsisme dan egoisme si tokoh utama novel, maka, 12 Menit menghadirkan keegaliteran dan kebersamaan. Itulah kelebihan novel 12 Menit yang didalamnya sengaja ditambahkan glosarium dunia marching band agar pembaca ternyamankan dalam menikmati novel yang beraksentuasi warna kover biru menawan.

*Pecinta Buku; Penikmat Sastra, tinggal di Yogyakarta
NB: Resensi ini diikut sertakan dalam Lomba Menulis Resensi Novel 12 Menit (Noura Books)
             

           
             

Tidak ada komentar:

Posting Komentar