Rabu, 31 Juli 2013

U-Turn dan Beban Sejarah yang Harus Diselesaikan




Judul buku: U-Turn
Penulis: Nadya Prayudhi
Penerbit: PlotPoint Publishing, Jakarta
Cetakan: April, 2013
Tebal: 213 halaman

Dosa masa lampau; memanggul beban sejarah untuk kemudian menjelma menjadi monster yang siap menjajah nalar kewarasan. Perasaan bersalah terus menghantui. Selalu ada alasan-alasan serba musykil untuk tidak bisa menyelesaikannya sebagai sebuah upaya rekonsiliasi. Lebih mencemaskan lagi bila bersangkut urusan nyawa. Mencoba membungkam masa silam adalah kemustahilan meski kasus tak terlacak. Namun, dosa masa lalu kudu diselesaikan. Novel U-Turn mencoba mengangkat ide tersebut. 
Berkisah tentang Karindra, perempuan yang melakukan dosa besar di masa remaja: membunuh orang. Tapi, “pembunuhan” tidak sengaja, hanya mendorong badan saja. Si korban, Zara, sialnya langsung jatuh dan kepalanya terantuk batu besar. Zara tamat. Untungnya, tak ada yang melihat aksinya. Karindra tak kenal Zara; bukan teman sepermainan atau satu sekolah. Tapi, Zara-lah yang menyebabkan sahabat sekaligus sepupu Karindra, Abi, tewas.
Abi, dia betul-betul laki sehingga ia mencintai Bre, pria terkeren sekaligus (konon) menjadi kekasih Zara. Urusan gay dan ketidaknormalan menjadi bumbu di novel itu. Nadya Prayudhi ciamik bersikap: tak mau berkhotbah bahwa pria suka lelaki adalah kelainan.
           Sampai pada titik kulminasinya, “hantu” Zara terus menghantui setiap jengkal langkah Karindra meski coba dilupakannya dengan bersekolah di Amerika Serikat dan bekerja di Bali. Ia butuh psikiater. Jalan lalu menunjukkannya pada Marisha alias Icha. Dosa masa silam Karindra kemudian ditumpahkan padanya.
       Dunia itu sempit. Bre, Icha, Zara, dan Abi adalah teman satu sekolah. Sedangkan Nadya cerdik menempatkan Karindra bukan teman satu sekolah dengan keempatnya saat jenjang SMA. Dan, Abi terus menjadi olokan. Sampai pada akhirnya keberanian Abi untuk melawan; menampar pipi Zara. Abi sontak lalu berlari menuju jalan raya menghindari kejaran teman-teman Zara yang hendak membalas. Abi tertabrak. Abi tamat. Bre sadar hal itu bisa ia cegah. Bre merasa bersalah. Zara pun demikian.  
        Di samping sempit, isi dunia rupanya saling berkait. Bre dan Karindra bertemu di sebuah resto. Berawal dari insiden kecil, keduanya lalu berkenalan dan selanjutnya menjalin asmara. Nadya terlalu cepat menarasikannya. Sensasi kedetailan tumbuhnya benih-benih asmara luput.
         Bre akhirnya tahu bahwa “pembunuh” Zara adalah kekasihnya sendiri. Zara menceritakan masa lalunya yang kelam itu setelah tiba-tiba ia seperti kesurupan. Icha kemudian memberikan obat penenang yang lebih mujarab lagi. 
        Ada upaya rekonsiliasi yang coba diretas. Bre, Karindra, dan Icha duduk satu meja. Di sinilah ketiganya membuka borok. Bre mengaku sebagai pria yang pernah dicintai Abi. Karindra terperanjat perihal riwayat kekasihnya itu. Sedangkan Icha adalah sahabat Zara. Dan, Karindra baru sadar bahwa selama ini ia telah diberi racun, bukan obat. Icha sengaja demikian sebagai balasan atas kematian Zara. Di sinilah letak kecerdikan Nadya mengakhiri klimaks penceritaannya yang serba mengejutkan. Ada usaha permaafan yang coba dirangkai oleh ketiganya.
       Kover U-Turn pun patut mendapat apresiasi karena bersemiotika tinggi. Kover bergambar perempuan yang menghadap ke belakang mengamati dirinya sendiri yang tercebur dalam genangan lumpur adalah potret Karindra yang memberanikan diri untuk melihat masa lalunya sebagai upaya rekonsiliasi. U-Turn adalah kembali ke belakang. Menyelesaikan beban sejarah agar tatkala melangkah menjalani sisa hidup menjadi terasa lega dan bebas tanpa direcoki para monster dan hantu.    
                           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar