Judul buku: U-Turn
Penulis: Nadya Prayudhi
Penerbit: PlotPoint Publishing, Jakarta
Cetakan: April, 2013
Tebal: 213 halaman
Dosa masa lampau; memanggul beban sejarah untuk kemudian menjelma
menjadi monster yang siap
menjajah nalar kewarasan. Perasaan bersalah terus
menghantui. Selalu ada alasan-alasan serba musykil untuk tidak bisa menyelesaikannya
sebagai sebuah upaya rekonsiliasi. Lebih mencemaskan lagi bila bersangkut urusan
nyawa. Mencoba membungkam masa silam adalah kemustahilan meski kasus tak
terlacak. Namun, dosa masa lalu kudu diselesaikan. Novel U-Turn mencoba
mengangkat ide tersebut.
menjajah nalar kewarasan. Perasaan bersalah terus
menghantui. Selalu ada alasan-alasan serba musykil untuk tidak bisa menyelesaikannya
sebagai sebuah upaya rekonsiliasi. Lebih mencemaskan lagi bila bersangkut urusan
nyawa. Mencoba membungkam masa silam adalah kemustahilan meski kasus tak
terlacak. Namun, dosa masa lalu kudu diselesaikan. Novel U-Turn mencoba
mengangkat ide tersebut.
Berkisah tentang Karindra, perempuan yang melakukan dosa besar di
masa remaja: membunuh orang. Tapi, “pembunuhan” tidak sengaja, hanya mendorong
badan saja. Si korban, Zara, sialnya langsung jatuh dan kepalanya terantuk batu
besar. Zara tamat. Untungnya, tak ada yang melihat aksinya. Karindra tak kenal
Zara; bukan teman sepermainan atau satu sekolah. Tapi, Zara-lah yang
menyebabkan sahabat sekaligus sepupu Karindra, Abi, tewas.
Abi, dia betul-betul laki sehingga ia mencintai Bre, pria terkeren sekaligus (konon) menjadi kekasih Zara. Urusan gay dan ketidaknormalan menjadi bumbu di novel itu. Nadya Prayudhi ciamik bersikap: tak mau berkhotbah bahwa pria suka lelaki adalah kelainan.
Abi, dia betul-betul laki sehingga ia mencintai Bre, pria terkeren sekaligus (konon) menjadi kekasih Zara. Urusan gay dan ketidaknormalan menjadi bumbu di novel itu. Nadya Prayudhi ciamik bersikap: tak mau berkhotbah bahwa pria suka lelaki adalah kelainan.
Sampai pada titik
kulminasinya, “hantu” Zara terus menghantui setiap jengkal langkah Karindra
meski coba dilupakannya dengan bersekolah di Amerika Serikat dan bekerja di
Bali. Ia butuh psikiater. Jalan lalu menunjukkannya pada Marisha alias Icha.
Dosa masa silam Karindra kemudian ditumpahkan padanya.
Dunia itu sempit. Bre, Icha, Zara, dan Abi adalah teman satu sekolah. Sedangkan Nadya cerdik menempatkan Karindra bukan teman satu sekolah dengan keempatnya saat jenjang SMA. Dan, Abi terus menjadi olokan. Sampai pada akhirnya keberanian Abi untuk melawan; menampar pipi Zara. Abi sontak lalu berlari menuju jalan raya menghindari kejaran teman-teman Zara yang hendak membalas. Abi tertabrak. Abi tamat. Bre sadar hal itu bisa ia cegah. Bre merasa bersalah. Zara pun demikian.
Dunia itu sempit. Bre, Icha, Zara, dan Abi adalah teman satu sekolah. Sedangkan Nadya cerdik menempatkan Karindra bukan teman satu sekolah dengan keempatnya saat jenjang SMA. Dan, Abi terus menjadi olokan. Sampai pada akhirnya keberanian Abi untuk melawan; menampar pipi Zara. Abi sontak lalu berlari menuju jalan raya menghindari kejaran teman-teman Zara yang hendak membalas. Abi tertabrak. Abi tamat. Bre sadar hal itu bisa ia cegah. Bre merasa bersalah. Zara pun demikian.
Di samping sempit,
isi dunia rupanya saling berkait. Bre dan Karindra bertemu di sebuah resto.
Berawal dari insiden kecil, keduanya lalu berkenalan dan selanjutnya menjalin
asmara. Nadya terlalu cepat menarasikannya. Sensasi kedetailan tumbuhnya benih-benih
asmara luput.
Bre akhirnya tahu bahwa “pembunuh” Zara adalah kekasihnya sendiri. Zara menceritakan masa lalunya yang kelam itu setelah tiba-tiba ia seperti kesurupan. Icha kemudian memberikan obat penenang yang lebih mujarab lagi.
Ada upaya rekonsiliasi yang coba diretas. Bre, Karindra, dan Icha duduk satu meja. Di sinilah ketiganya membuka borok. Bre mengaku sebagai pria yang pernah dicintai Abi. Karindra terperanjat perihal riwayat kekasihnya itu. Sedangkan Icha adalah sahabat Zara. Dan, Karindra baru sadar bahwa selama ini ia telah diberi racun, bukan obat. Icha sengaja demikian sebagai balasan atas kematian Zara. Di sinilah letak kecerdikan Nadya mengakhiri klimaks penceritaannya yang serba mengejutkan. Ada usaha permaafan yang coba dirangkai oleh ketiganya.
Bre akhirnya tahu bahwa “pembunuh” Zara adalah kekasihnya sendiri. Zara menceritakan masa lalunya yang kelam itu setelah tiba-tiba ia seperti kesurupan. Icha kemudian memberikan obat penenang yang lebih mujarab lagi.
Ada upaya rekonsiliasi yang coba diretas. Bre, Karindra, dan Icha duduk satu meja. Di sinilah ketiganya membuka borok. Bre mengaku sebagai pria yang pernah dicintai Abi. Karindra terperanjat perihal riwayat kekasihnya itu. Sedangkan Icha adalah sahabat Zara. Dan, Karindra baru sadar bahwa selama ini ia telah diberi racun, bukan obat. Icha sengaja demikian sebagai balasan atas kematian Zara. Di sinilah letak kecerdikan Nadya mengakhiri klimaks penceritaannya yang serba mengejutkan. Ada usaha permaafan yang coba dirangkai oleh ketiganya.
Kover U-Turn
pun patut mendapat apresiasi karena bersemiotika tinggi. Kover bergambar perempuan
yang menghadap ke belakang mengamati dirinya sendiri yang tercebur dalam genangan
lumpur adalah potret Karindra yang memberanikan diri untuk melihat masa lalunya
sebagai upaya rekonsiliasi. U-Turn adalah kembali ke belakang. Menyelesaikan
beban sejarah agar tatkala melangkah menjalani sisa hidup menjadi terasa lega
dan bebas tanpa direcoki para monster dan hantu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar