Oleh: Muhammad Itsbatun Najih
Internet layaknya sebuah agama baru. Tak berlebihan rasanya hal itu diungkapkan ketika melihat progresifitas kita semua menghadapi dunia tanpa batas tersebut.
Memang tak ada ritual tertentu atau sekadar petuah-petuah, namun ia menyelinap di tengah zaman post-modernisme dan terus bertambah saja ‘pengikutnya’. Kemunculannya memberikan keterbukaan (baik dalam makna aslinya maupun buka-bukaan dalam artian yang sebenarnya: situs porno) apa saja yang selama ini terkungkung oleh sekat wilayah antar daerah, antar negara atau oleh kebijakan pemerintah yang otoriter.
Semua orang dengan berlatar belakang ideologi apapun, entah seorang komunis, konservatif, demokrat sampai paling liberal pun menerima internet sebagai pemandu menuju harapan mereka masing-masing. Dengannya, mereka menemukan kesolidan antar sesama maupun dengannya pula (internet) dijadikan sebagai ajang perang dengan ideologi dan paham lain.
***
Sepasang mata dari anak kecil terus bertempur dengan terangnya monitor komputer di pojokan sebuah warung internet (warnet). Sebuah gambaran konkrit akan gaya hidup yang berubah. Lazimnya anak kecil masih akrab dengan bermain di sungai atau di pematang sawah. Gaya hidup yang bergeser dari ‘jadulisme’ menuju era internetisme telah menjadi kenyataan sekarang ini. Dalihnya, internet lebih menghibur dan mengasyikkan.
Maka tak mengherankan ketika banyak anak kecil usia Sekolah Dasar kemudian menyerbu warnet di dekat sekolahnya. Bergerombol datang bagai pasukan perang. Patungan biaya akses untuk sekadar melototi ragam jenis permainan online selama satu sampai dua jam. Hal yang bagi saya menyimpan dua makna kontradiksi: bangga sekaligus prihatin pada mereka.
Bangga karena memang mereka perlu mengaktualisasikan dirinya juga demi menjaga eksistensi di era sekarang agar tak dianggap ketinggalan zaman. Tapi, anak kecil itu juga menjadi aktor utama pembunuh ragam permainan tradisional mereka sendiri.
Saya dan tentunya kita semua juga tetap menaruh kewaspadaan pada mereka akan apa yang mereka akses. Jangan-jangan apa yang mereka lihat bukan permainan online, namun justru hal-hal yang belum pantas mereka konsumsi.
Tentu, melihat animo masyarakat yang sedang tinggi-tingginya, warnet menjamur di mana-mana terutama di wilayah perkotaan. Kondisi ini menyebabkan satu warnet ‘berperang’ dengan warnet lainnya demi meraup pengunjung. Perang tarif dengan berbagai macam bentuk pun ditabuh.
Berangkat dari sini. ternyata internet membuka lapangan kerja. Mulai dari operator (penjaga warnet) sampai juru parkir. Tapi saya khawatir hal itu tidak akan berlangsung lama. Pasalnya, pengusaha-pengusaha besar tentu melihat juga dengan jeli pangsa pasar ini yakni dengan memproduksi modem. Dengan modem, tak perlu keluar rumah, cukup di kamar kita sudah meneropong dan berselancar kemana saja sepuasnya.
Dengan internet, masalah keseharian dapat terbantu. Bagi yang doyan berbelanja, mencari pakaian model terbaru bisa langsung melihat referensinya di internet. Jika barang yang diinginkan bertempat nun jauh di sana, transaksi secara online sudah jamak dilakukan.
Jika kita gemar meng-kini-kan informasi (berita), internet menyimpan segudang informasi untuk kita. Situs-situs berita online bahu-membahu terus memperbarui informasinya secepat mungkin. Kita tak perlu repot-repot harus membaca edisi cetak surat kabar yang tentunya beritanya sudah basi. Dari titik ini, rasanya mengucapkan selamat tinggal pada koran cetak memang sudah waktunya. Maka tak mengherankan jika sekarang banyak media cetak lalu meng-online-kan beritanya.
Bekerja untuk mendapat uang tidak harus pergi keluar rumah, terjun di lapangan, berpanas-panasan. Gaya hidup yang baru menuntut Anda (kita) duduk di atas kursi yang empuk ditemani secangkir kopi hangat dengan tentunya tatapan penuh pada monitor komputer. Ada jutaan rupiah bahkan lebih yang bisa didapatkan dari internet setiap bulannya jika sukses memaksimalkannya.
Jika kebetulan Anda (kita) punya hobi menulis, di sana, akan menemukan banyak sekali lomba karya tulis; mulai menulis puisi, cerpen, novel, sampai pada penulisan yang berbobot (karya tulis ilmiah). Jika kita bisa melihatnya dengan jeli peluang ini, maka jalan yang satu ini bisa dijadikan pekerjaan baru untuk meraih pendapatan tambahan.
Beberapa teman dan saya sendiri pernah mengalaminya. Hunting lomba menulis di internet, kemudian mencobanya dan ternyata tak disangka menyabet juara. Dari situ kita (saya dan teman-teman) kemudian menjadi kecanduan untuk mengikuti berbagai kompetisi karya tulis dari internet. Padahal dulu, kegiatan seperti ini (hunting lomba) hanya kami lakukan dengan mencarinya di koran dan tentunya sayembara semacam itu jarang sekali kemunculannya.
Dunia blogger juga menarik untuk diikutkan pada ranah ini. Pencurahan ide lewat tulisan bisa menjadi ajang untuk mempromosikan diri kita di tingkat kepenulisan. Kita tentunya bisa melihat sosok seperti Fany Ariasari dan Raditya Dika yang sukses mendulang uang lewat blog. Paling populer adalah dengan memanfaatkan Google Adsense (GA), sebuah perantara iklan jika kita mahir mengelola dengan baik blog kita dengan GA, tentu, pundi-pundi uang akan semakin banyak dan lebih menjanjikan daripada sekadar gaji pegawai golongan bawah.
Jejaring sosial
Kehadiran jejaring sosial rupanya semakin menambah percaturan masyarakat di tingkat global. Seseorang yang bermukim di ujung dunia belahan barat bisa berteman dan chatting dengan temannya yang ada di belahan timur. Dua jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter melejit dengan pengguna yang terus merangkak.
Beberapa waktu lalu, ketika booming Facebook, gaya hidup kita (sebagian) berubah total. Revolusi dunia komunikasi mengubah pada aspek-aspek lain. Mulai dari ketika bangun pagi, misalnya, hal yang dilakukan pertama kali adalah mengecek status di Facebook: ‘apa ada yang berkomentar’. Warnet juga semakin ramai. Bukan membaca situs berita atau untuk keperluan yang lebih “bermanfaat”, melainkan asyik menulis status dan chatting berjam-jam dengan teman barunya.
Tapi, dunia jejaring sosial juga menyimpan energi negatif. Selain sebagai ajang pertemanan, pemberitaan tentang penculikan anak, bisnis esek-esek, dan pencemaran nama baik rupanya menjadi keresahan para orang tua dan masyarakat luas terhadap dampak Facebook. Apalagi mayoritas pemakai Facebook di Indonesia sekitar 53% adalah remaja berusia kurang dari 18 tahun. (BBCIndonesia.com/17/2/2010), yang rentan terhadap kejadian di atas.
Namun, tentu tidak adil bila memosisikan Facebook sebagai media yang penuh efek negatif. Banyak hal yang bermanfaat pada Facebook untuk dikembangkan dan dimaksimalkan fungsinya sedemikian rupa yang memiliki aspek positif. Masih ingatkah dengan penggalangan dukungan oleh facebooker atas kasus yang dialami oleh ketua KPK Bibit-Chandra, kasus yang hampir meruntuhkan kepercayaan masyarakat atas lembaga pemberantasan korupsi itu selamat atas jasa Facebook. Di mana yang pada akhirnya kasus itu di-deeponering.
Paling anyar, gejolak politik di Mesir di mana rakyat Mesir yang sudah muak dengan pemerintahan Hosni Mubarak melakukan penggalangan massa untuk turun ke jalan melalui Facebook dan Twitter. Sebuah rezim diktator yang berkuasa 30 tahun akhirnya tumbang yang diakibatkan 'hanya' oleh jejaring sosial.
Internet Produktif
Kedepan, di mana fakta menunjukkan bahwa penduduk Indonesia dengan jumlah yang sangat besar namun tersebar kurang merata, menyebabkan akses pendidikan tinggi kurang maksimal terjangkau di wilayah pelosok. Untuk itu dibutuhkan lebih banyak lagi Universitas Terbuka (UT) dengan pembelajaran ‘distance learning’ yang di mana semua itu perlu dukungan fasilitas internet. Hal itu bertujuan untuk peningkatan kualitas pendidikan tinggi di daerah terpencil yang selama ini belum terjangkau dengan baik.
Selain internet untuk program ‘distance learning’, program internet masuk sekolah (terutama sekolah di pedesaan) tetap selayaknya menjadi program reguler pemerintah agar siswa SD di desa mampu bersaing dengan siswa di kota. Selain itu upaya tersebut berguna untuk memutus link dari stigma bahwa orang desa selalu ketinggalan dari orang kota.
Namun, masalahnya sekarang adalah ketika pemerintah justru belum menciptakan prinsip keadilan di antara rakyatnya. Andaikata orang desa diberikan kesempatan dan fasilitas seperti orang kota (kemudahan ber-internet) tentu akan berdampak baik pada aspek kehidupan lainnya. Masalah urbanisasi akan lama–kelamaan hilang dan tentunya mengurangi beban warga kota atau efek lainnya adalah tereliminasinya kesenjangan sosial maupun pendidikan antara desa dan kota.
Alhasil, dari paparan di atas, setidaknya kita perlu menyadari sejenak bahwa memang internet menjadi semacam pisau dapur buat kita dalam menghadapi persaingan hidup yang semakin ketat. Pisau dapur sejatinya sangat berguna untuk memotong daging dan sayuran (asas kemanfaatan) sehingga menciptakan sebuah hidangan yang lezat. Namun, bisa juga digunakan untuk menusuk punggung teman (asas kerusakan). Ini semua kembali tergantung pada kita. Sama halnya dengan internet, bisa kita buat untuk mencari uang, menambah relasi dan informasi, namun bisa juga kita buat untuk tindak kejahatan seperti paparan di atas.
Nah, semoga kita bisa memanfaatkan internet layaknya seperti seorang koki yang menggunakan pisau dapurnya untuk memasak sebagai wujud dari asas kemanfaatan tersebut. Semoga.
Tulisan ini diikutkan pada Bhinneka Blog Competition
http://www.bhinneka.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar