Data Buku:
Judul Buku: Inside Coca-Cola
Penulis: Neville Isdell & David Beasley
Penerbit: Esensi, Erlangga
Tebal: 247 Halaman
Cetakan: Pertama, 2012
Peresensi: Muhammad Itsbatun Najih*
Coca-Cola adalah brand terkemuka. Merajai minuman
bersoda seantero dunia. Perusahaan besar selalu dikemudikan oleh mereka yang
berjiwa dan berpikir inovatif, penuh terobosan, serta kreatif. Salah satu
kemudi Coca-Cola mencoba menapaktilasi jejaknya sendiri dengan bukunya, Inside
Coca-Cola. Dia adalah Neville Isdell, CEO Coca-Cola periode 2004-2009.
Dalam
buku itu –yang penulisannya dibantu oleh David Beasley, ia bukan menjadi juru
bicara Coca-Cola dengan mendongeng kesuksesan perusahaan itu. Tapi, ia
menceritakan dirinya sendiri dengan tujuan
dapat menginspirasi masyarakat dunia bahwa kesuksesan tak datang
tiba-tiba. Neville tidak diuntungkan oleh apapun. Keluarganya bukanlah
tergolong kaya raya atau mempunyai pengaruh di Coca-Cola. Ia memulai debut
kariernya mulai kasta terbawah sebagai seorang karyawan biasa.
Daya
juang penuh terobosan sebagai anak muda yang baru lulus dari tingkat sarjana
menjadikan Neville terus berinovasi. Ide-ide memajukan perusahaan Coca-Cola di
Zambia berkelebat yang diwujudkan dengan serangkaian langkah-langkah inovatif
dan berani. Penjualan minuman bersoda di Zambia kala tahun 1960-an masih
menemui rintangan besar. Terutama medan yang berat dan terpencil.
Kerja
keras Neville dan kecakapan mengelola pembotolan Coca-Cola di Zambia menjadi
modal untuk terus mendapat kenaikan jabatan dengan mengawal distribusi
Coca-Cola di Zambia sebagai manajer eksekutif. Kesuksesan di Zambia membawanya
mendapat promosi jabatan dengan menangani Coca-Cola di Johannesburg, Afrika
Selatan. Dari sinilah, ia mulai diperhitungkan sebagai calon CEO.
Neville
sendiri berkebangsaan Irlandia Utara. Di waktu kecil, ayahnya membawanya hijrah
ke Zambia dalam rangka menjalankan tugas kedinasan. Di Zambia, ia bersekolah
hingga menyelesaikan kesarjanaannya dan langsung bergabung dengan Coca-Cola.
Inside
Coca-Cola bukan semata merupakan cerita kesuksesan Neville yang patut
ditiru. Ada kelebihan lain dari buku itu. Perihal pemikirannya soal ideologi
kapitalisme. Sebagai mantan CEO, ia tentunya paham betul urusan tetek-bengek
perusahaan yang selalu menimbulkan dua sisi: pro-kontra. Perusahaan swasta
adalah kapitalisme. Neville paham betul tentang itu.
Kalangan
sosialis mengecam kapitalisme yang dianggap telah melukai hakikat perekonomian
dengan mementingkan keuntungan perseorangan. Pun, kapitalisme dinilai sebagai
cipta karya manusia yang paling jahat yang pernah ada. Dengan kapitalisme,
nafsu serakah membuncah yang sering ditutupi dengan kedok demi kemajuan,
pemberdayaan, dan kemanusiaan. Kapitalisme dalam praktiknya memeras tenaga karyawan
layaknya mesin, menciptakan ketidakadilan ekonomi –gap antara gaji atasan dan
karyawan yang terlalu lebar, dan efek nyata lainnya adalah rusaknya ekosistem
kehidupan lewat pencemaran berupa limbah dan polusi udara yang ditimbulkan dari
aktivitas produksi.
Tudingan
itulah yang mendasari Neville melakukan pembelaan. Ia tak mau kapitalisme
terus-menerus dicap sebagai kejahatan. Pun, Neville berusaha melihat
kapitalisme sebagai sisi positif untuk kemajuan umat manusia. Dalam masa
kepemimpinannya, Coca-Cola menaruh perhatian besar terhadap isu pencemaran
lingkungan. Isu tersebut memang menjadi momok dan senjata para aktivis
lingkungan hidup untuk menjerat leher kapitalisme sebagai perusak alam.
Tapi, kapitalisme menurut Neville justru
menjadi kontributor utama kemaslahatan manusia. Ia tamsilkan sebuah rumah sakit
tidak akan dapat beroperasi secara maksimal bila perusahaan (kapitalisme) tidak
ikut urun dana. Kita sering menyebutnya sebagai bentuk tanggung jawab
perusahaan atau CSR (Corporate Social Responsibility) walau Neville sendiri
menolak menggunakan istilah tersebut. Baginya, bila menggunakan istilah
tersebut, berarti seakan-akan perusahaan telah melakukan kejahatan dan CSR
kemudian menjadi tebusan atas dosa yang dilakukan sebuah perusahaan.
Dengan terus beroperasinya perusahaan, tentu akan ada
banyak sektor-sektor lain di masyarakat yang akan terbantu lewat program CSR,
seperti pendidikan, kesehatan, dan menjadi sponsor kegiatan olahraga.
Perusahaan tidak semata mencari keuntungan, namun tampil sebagai pelopor
kepemimpinan moral dengan memerhatikan kesejahteraan masyarakat. Hal seperti
inilah yang Neville istilahkan sebagai kapitalisme terhubung (connected
capitalism).
Bayangkan
bila perusahaan-perusahaan berhenti beroperasi, tentu efek buruk yang timbulkan
pada masyarakat sangat besar. Pengangguran merajalela, gejolak sosial
meningkat, rumah sakit tidak beroperasi, serta sekolah terbengkalai. Begitulah
pembelaan Neville terhadap kapitalisme.
Sayangnya,
Neville alpa bahwa kapitalisme tetap menciptakan jurang yang terlalu lebar pada
pelaku ekonomi –yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin nelangsa. Dana CSR
yang jumlahnya kecil bila dibanding dengan keuntungan perusahaan yang begitu
besar lantas dijadikan ritus pujian dan digembor-gemborkan di media massa.
Walhasil, uang dapat dicari, tapi jika kehancuran ekosistem semakin hari
semakin dahsyat, apa bisa diganti dengan uang, Mr. Neville?
Buku ini
sekali lagi sebagai inspirasi untuk mengikuti jejak Neville sebagai orang yang
selalu harus berpikir dan bertindak inovatif. Soal pemikirannya tentang
“Kapitalisme Terhubung”, tentu masih menyisakan ruang perdebatan yang
panjang.
*Pecinta Buku;
Tinggal di Jogjakarta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar