Jumat, 30 November 2012

Kebaikan Kapitalisme Ala Bos Coca-Cola


Data Buku:
Judul Buku: Inside Coca-Cola
Penulis: Neville Isdell & David Beasley
Penerbit: Esensi, Erlangga
Tebal: 247 Halaman
Cetakan: Pertama, 2012
Peresensi: Muhammad Itsbatun Najih*
Coca-Cola adalah brand terkemuka. Merajai minuman bersoda seantero dunia. Perusahaan besar selalu dikemudikan oleh mereka yang berjiwa dan berpikir inovatif, penuh terobosan, serta kreatif. Salah satu kemudi Coca-Cola mencoba menapaktilasi jejaknya sendiri dengan bukunya, Inside Coca-Cola. Dia adalah Neville Isdell, CEO Coca-Cola periode 2004-2009.
            Dalam buku itu –yang penulisannya dibantu oleh David Beasley, ia bukan menjadi juru bicara Coca-Cola dengan mendongeng kesuksesan perusahaan itu. Tapi, ia menceritakan dirinya sendiri dengan tujuan  dapat menginspirasi masyarakat dunia bahwa kesuksesan tak datang tiba-tiba. Neville tidak diuntungkan oleh apapun. Keluarganya bukanlah tergolong kaya raya atau mempunyai pengaruh di Coca-Cola. Ia memulai debut kariernya mulai kasta terbawah sebagai seorang karyawan biasa.
            Daya juang penuh terobosan sebagai anak muda yang baru lulus dari tingkat sarjana menjadikan Neville terus berinovasi. Ide-ide memajukan perusahaan Coca-Cola di Zambia berkelebat yang diwujudkan dengan serangkaian langkah-langkah inovatif dan berani. Penjualan minuman bersoda di Zambia kala tahun 1960-an masih menemui rintangan besar. Terutama medan yang berat dan terpencil.
            Kerja keras Neville dan kecakapan mengelola pembotolan Coca-Cola di Zambia menjadi modal untuk terus mendapat kenaikan jabatan dengan mengawal distribusi Coca-Cola di Zambia sebagai manajer eksekutif. Kesuksesan di Zambia membawanya mendapat promosi jabatan dengan menangani Coca-Cola di Johannesburg, Afrika Selatan. Dari sinilah, ia mulai diperhitungkan sebagai calon CEO.
            Neville sendiri berkebangsaan Irlandia Utara. Di waktu kecil, ayahnya membawanya hijrah ke Zambia dalam rangka menjalankan tugas kedinasan. Di Zambia, ia bersekolah hingga menyelesaikan kesarjanaannya dan langsung bergabung dengan Coca-Cola.
            Inside Coca-Cola bukan semata merupakan cerita kesuksesan Neville yang patut ditiru. Ada kelebihan lain dari buku itu. Perihal pemikirannya soal ideologi kapitalisme. Sebagai mantan CEO, ia tentunya paham betul urusan tetek-bengek perusahaan yang selalu menimbulkan dua sisi: pro-kontra. Perusahaan swasta adalah kapitalisme. Neville paham betul tentang itu.
            Kalangan sosialis mengecam kapitalisme yang dianggap telah melukai hakikat perekonomian dengan mementingkan keuntungan perseorangan. Pun, kapitalisme dinilai sebagai cipta karya manusia yang paling jahat yang pernah ada. Dengan kapitalisme, nafsu serakah membuncah yang sering ditutupi dengan kedok demi kemajuan, pemberdayaan, dan kemanusiaan. Kapitalisme dalam praktiknya memeras tenaga karyawan layaknya mesin, menciptakan ketidakadilan ekonomi –gap antara gaji atasan dan karyawan yang terlalu lebar, dan efek nyata lainnya adalah rusaknya ekosistem kehidupan lewat pencemaran berupa limbah dan polusi udara yang ditimbulkan dari aktivitas produksi.
            Tudingan itulah yang mendasari Neville melakukan pembelaan. Ia tak mau kapitalisme terus-menerus dicap sebagai kejahatan. Pun, Neville berusaha melihat kapitalisme sebagai sisi positif untuk kemajuan umat manusia. Dalam masa kepemimpinannya, Coca-Cola menaruh perhatian besar terhadap isu pencemaran lingkungan. Isu tersebut memang menjadi momok dan senjata para aktivis lingkungan hidup untuk menjerat leher kapitalisme sebagai perusak alam.
               Tapi, kapitalisme menurut Neville justru menjadi kontributor utama kemaslahatan manusia. Ia tamsilkan sebuah rumah sakit tidak akan dapat beroperasi secara maksimal bila perusahaan (kapitalisme) tidak ikut urun dana. Kita sering menyebutnya sebagai bentuk tanggung jawab perusahaan atau CSR (Corporate Social Responsibility) walau Neville sendiri menolak menggunakan istilah tersebut. Baginya, bila menggunakan istilah tersebut, berarti seakan-akan perusahaan telah melakukan kejahatan dan CSR kemudian menjadi tebusan atas dosa yang dilakukan sebuah perusahaan.
Dengan terus beroperasinya perusahaan, tentu akan ada banyak sektor-sektor lain di masyarakat yang akan terbantu lewat program CSR, seperti pendidikan, kesehatan, dan menjadi sponsor kegiatan olahraga. Perusahaan tidak semata mencari keuntungan, namun tampil sebagai pelopor kepemimpinan moral dengan memerhatikan kesejahteraan masyarakat. Hal seperti inilah yang Neville istilahkan sebagai kapitalisme terhubung (connected capitalism).
            Bayangkan bila perusahaan-perusahaan berhenti beroperasi, tentu efek buruk yang timbulkan pada masyarakat sangat besar. Pengangguran merajalela, gejolak sosial meningkat, rumah sakit tidak beroperasi, serta sekolah terbengkalai. Begitulah pembelaan Neville terhadap kapitalisme.
            Sayangnya, Neville alpa bahwa kapitalisme tetap menciptakan jurang yang terlalu lebar pada pelaku ekonomi –yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin nelangsa. Dana CSR yang jumlahnya kecil bila dibanding dengan keuntungan perusahaan yang begitu besar lantas dijadikan ritus pujian dan digembor-gemborkan di media massa. Walhasil, uang dapat dicari, tapi jika kehancuran ekosistem semakin hari semakin dahsyat, apa bisa diganti dengan uang, Mr. Neville?
            Buku ini sekali lagi sebagai inspirasi untuk mengikuti jejak Neville sebagai orang yang selalu harus berpikir dan bertindak inovatif. Soal pemikirannya tentang “Kapitalisme Terhubung”, tentu masih menyisakan ruang perdebatan yang panjang. 
*Pecinta Buku; Tinggal di Jogjakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar