Kamis, 03 Februari 2011

Bersama Kita Menjadi Bintang



Judul buku : ..and The Star is Me!
Penulis: : Afifah Afra
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan: : I, 2008
Tebal : 264 halaman

Di tengah kekalutan dan kegersangan masyarakat Indonesia akan nilai-nilai kesuksesan setelah dihajar krisis ekonomi sepuluh tahun silam, rupanya bangsa ini belum jua bangun lalu bangkit. Bangsa ini masih harus menjalani ‘perawatan’ secara telaten.
Bangsa sebesar Indonesia tentulah mempunyai segalanya. Mulai dari segi SDA sampai SDM-nya. Indonesia terkenal kaya akan sumber alamnya yang melimpah ruah. Ini dilanjutkan dengan banyak manusia Indonesia yang terbilang cerdas-cerdas pula. Tapi, lagi-lagi yang menjadi persolaan kenapa kita tak jua untuk menyongsong menjadi bangsa yang besar? Jawabnya mungkin agak sepele. Tapi, langsung menghujam jantung setiap para pembaca.
Bangsa ini kian terpuruk karena kita tak mempunyai kepercayaan diri, mudah putus asa. Kita merasa tak ada-apannya dibandiang SDM negara lain. Kita merasa kalah duluan sebelum bertanding di kompetisi era global ini. Ringkasnaya. kita kehilangan rasa kebintangan yang selalu hinggap dan bersemayam di setiap jiwa kita.
Bangsa ini seharusnaya dibangun oleh para motivator dan inspirator. Sehingga semangat untuk bangun dan bangkit lagi akan ada dan terus ada tanpa mengenal keputusasaan. Sehingga kedepannya, bangsa ini mempunyai jutaan para bintang atau suksesor pada bidangnya masing-masing.
Tapi, yang menjadi persoalannya, bagaimaan kita menjadi ‘bintang’? pertanyaan inilah yang dicoba dijawab oleh penulis produktif Afifah Afra dalam bukunya ….and the Star is me!. Beliau dengan referensi bacaan yang seabreg mengupas serta membelokkan paradigma selama ini tentang keraguan bahwa setiap insan adalah bintang dan patut menjadi bintang yang bersinar.
Afifah mencoba mengilustrasikan paradigma yang beliau anggap sudah salah kaprah. Dikisahkan ketika ada dua jagoan di kelas. Satu jago dalam bidang fisika, satunya lagi ahli dalam hal memasak. Meskipun begitu, si jago masak tersebut akan di cap sebagai si bodoh karena ‘letoy’dalam pelajaran fisika meskipun nilai masaknya sembilan. Kemudian seorang ibu akan sedikit merasa malu atau minder ketika mengatakan rutinitas kesehariannya ialah momong (merawat) anak-anaknya ketika ditanya oleh seorang wanita karir. (hal 9). Inilah yang dianggap Afra sebagai gejala bintang yang mau meredup.
Ada hal menarik yang perlu ditarik benang merahnya. Ketika di antara kita ahli atau jago dalam hal eksakta tentu pandangan orang akan berbeda (baca: istimewa). Dan setiap orang tentu ingin menjadi mereka dalam artian terkenal atau disebut ahli eksakta. Sedangkan keahlian memasak atau hanya menjadi ibu rumah tangga di era persaingan global tentunya dianggap sebagai hal yang kurang atau tidak istimewa.
Strategi menjadi seorang bintang membutuhkan banyak cara yang sistematis dan harus dipahami secara utuh. Tidak ujug-ujug kita langsung mencoba untuk meraih atau menjadi bintang. Artinya, kita harus memahami sifat-sifat bintang itu sendiri. Banyak bintang yang memang berguna (menerangi yang benda lain lewat cahayanya). Tapi, banyak pula yang meredup dan tak menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi lainnya atau terkadang malah menghancurkan sinar bintang yang lain.
Kalau sekarang dihadapkan oleh berbagai macam trend yang memaksa kita untuk selalu tampil kekini-kinian tentu kita belum beranjak untuk menuju jalan bintang yang sudah ada pada diri kita masing-masing. Untuk itulah, sifat menjadi trend follower harus dihilangkan secara bertahap. Kenapa kita tidak diharapkan untuk menjadi trend follower? Karena kebintangan tak membutuhkan syarat seperti itu. Kebintangan hanya menjadikan seorang itu sebagai trend setter.
Secara kreatif, buku non-fiksi Afra ini terbagi menjadi beberapa bagian yang disebut dengan istilah puzzle. Di tiap bagian puzzle mempunyai pembahasan yang cukup lengkap dan dibahas secara padat dan komunikatif. Hal inilah yang membuat buku ini ‘renyah’ untuk dibaca oleh semua kalangan.
Dari sekian banyak puzzle, ada dua puzzle yang layak untuk dibaca secara serius dan lebih mendalam. Kalau boleh dikatakan, dua pazzle ini ibarat roh dalam melangkahkan kaki sebagai bintang. Walaupun dengan sendirinya tidak mengebiri atau menganaktirikan puzzle-puzzle lain.
Dua puzzle itu ialah pada puzzle dua serta puzzle empat. Puzzle dua misalnya, Siapapaun yang membaca dengan serius untuk menjadi bintang, maka, dengan seketika motivasi untuk menjadi bintang akan naik berlipat-lipat dan sekuat baja. Pasalnya, di puzzle dua ini, Afra mencuplik tiga kisah anak manusia yang telah menjadi bintang sesuai bidangnya masing-masing.
Kisah Sir Isaac Newton, misalnya. Isaac yang lahir dalam keadaan yatim dan hidup dalam kemiskinan yang sudah akut. Bahkan, Isaac kecil telah terserang gizi buruk. Ada pertanyaan menarik yang diungkapkan oleh Afra: Apa yang terbayang di benak Anda tentang masa depan si bayi bernama Isaac? Barangkali ia hanya akan menjadi salah satu gembong kriminal kelas teri atau jika nasib baik, maka ia akan diterima sebagai buruh petani yang bekerja pada tuan-tuan tanah di pedesaan Inggris. (hal : 43). Namun, sekarang, siapa yang tak mengenal Sir Isaac Newton. Tentu keberhasilannya menjadi bintang bukanlah diraih dengan bermalas-malas saja.
Selain Isaac, adalah salah satu presiden Amerika, Franklin Delano Roosevelt (FDR). Beliau adalah presiden yang berjasa dalam merancang perdamaian dunia setelah dilanda perang dunia lewat Atlantic Charter. Hebatnya, FDR dipilh sebagai presiden Amerika empat kali berturut-turut. Kegemilangan FDR dicapai setelah ia lumpuh permanen pada usia 39 tahun.
Kisah terakhir ialah Usamah bin Zaid. Beliau adalah panglima perang pasukan muslim yang berhasil mengalahkan pasukan Romawi pimpinan Heraklius. Namun, yang menjadi luar biasa ketika Usamah kala itu masih berusia 18 tahun.
Dari tiga kisah di atas tentu kita dapat mengambil pelajaran bahwa proses untuk menjadi bintang tentu membutuhkan pengorbanan dan semangat yang keras meskipun di tengah keterbatasan yang selalu ada dalam setiap manusia.
Puzzle yang juga layak dijadikan sebagai inti buku ….And the star is me! adalah puzzle empat. Puzzle ini berisikan tentang bagaimana tahap-tahap untuk menjadi bintang. Untuk menjadi bintang memang diperlukan tahap-tahap yang sistematis agar jangan sampai terjebak hanya pada motivasi saja. Tahap-tahap ini bertujuan agar di tengah perjalanan menjadi bintang, tidak ada lagi kejenuhan dan keputusasaan karena kegagalan dalam memelihara motivasi.
Langkah pertama adalah kenali siapa diri kita. Siapa saya? Lantas apa kelemahan dan kelebihan saya? Jadi, setelah berproses mengenali diri, kita akan menjadi kita yang berbeda-beda sesuai kemampuan kita yang juga berbeda-beda pula. Tidak ada istilah mengekor tapi menjadi pelopor.
Langkah kedua adalah memiliki peta diri. Sebuah ilustrasi yang apik kembali diungkapkan Afra. Ketika kita hendak menuju Jakarta dari kota Solo dengan melalui perjalanan via darat. Dengan melihat peta, Kita akan segera tahu jalur mana yang lebih cepat untuk menuju Jakarta (hal: 125). Dengan memetakan diri tentu dibutuhkan sebuah kejujuran nurani. Apa keunggulan saya dan bagaimana mengolahnya agar lebih baik dan begitupun sebaliknya. Dengan memetakan diri, diharapkan agar kita mampu untuk membuat perbaikan-perbaikan akibat kelemahan kita sendiri.
langkah ketiga adalah memiliki visi (visioner). Setiap yang ingin menjadi bintang tentu mempunyai visi. Artinya, segala usaha yang ingin dicapai tentu mempunyai arah, maksud atau tujuan yang jelas. Tanpa visi, proses untuk menjadi bintang hanyalah akan sia-sia belaka.
Langkah terakhir yakni memiliki srategi hidup. Urusan apa yang hendak Anda rencanakan selesai besok hari, sebulan lagi, setahun lagi dan seterusnya. Berkaca dari situlah perencanaan begitu penting. Afra telah membagi pembagian perencanaan dengan begitu unik tapi menarik. Untuk perencanaan jangka pendek bisa disebut ‘renjangdek’ atau renjamen untuk rencana jangka menengah. Hal yang terpenting adalah rencana harus diikuti pula oleh keseriusan dalam hal ketepatan waktu penyelesaiannya.
Sepintas dari pembahasan puzzle-puzzle dalam buku ini sangatlah menarik untuk dikonsumsi oleh orang yang ingin menjadi bintang. Dengan gaya bahasa yang akrab serta bersahabat, buku ini mampu ditelaah oleh berbagai lapisan tingkatan kecerdasan.
Ada pesan yang terpenting dalam buku ini yang disampaikan oleh Afra.Yakni, jadilah bintang sesuai kemampuan Anda. Ketika Anda pandai memasak, maka tekunilah dan jangan sampai Anda terpukau untuk menjadi bintang fisika. Jika Anda tekun dan berusaha keras, maka, Anda akan menjadi bintang dalam hal memasak. Anda akan membuat masakan kelas dunia serta mendirikan restoran yang besar.
Buku ini juga indah untuk dipandang dari segi tampilannya karena menyajikan kombinasi warna yang pas dan terselip kata-kata motivasi yang benar-benar memotivasi semua orang. “Tak ada pribadi biasa-biasa saja dalam jagad raya ini. Yang ada adalah pribadi yang gagal menjadikan dirinya luar biasa”, begitulah kata motivasi yang terpampang di cover depan.
Namun, tak ada gading yang tak retak. Begitu pula dengan buku ….And the star is me!. Buku ini kurang begitu monohok pada topik permasalahan. Pembahasannya cenderung bertele-tele dan melebar kemana-mana. Sehingga malah mengaburkan topik permasalahannya.
Buku ini juga terkesan biasa-biasa saja. Tak ada hal yang istimewa yang didapatkan. Motivasi-motivasi yang coba dibangun oleh Afifah seperti sama saja dengan apa yang disampaikan oleh banyak motivator negeri ini.
Selain itu, dalam buku ini banyak cerita-cerita pribadi Afra yang semestinya kurang ‘enak’ untuk dikonsumsi publik karena terlalu mengegokan pribadi Afra sendiri.
Yang terakhir adalah tentang Afra sendiri. Beliau dikenal luas sebagai salah satu penulis cerpen dan novel yang sukses di negeri ini. Nah, ketika Afra mencoba menulis buku non-fiksi yang terbilang serius karena membutuhkan banyak referensi, maka, yang terjadi adalah tentang keraguan spesialisasi. Ibarat seorang profesor dalam bidang perpolitikan mencoba menulis pada bidang pertanian tentulah sambutan pembaca juga akan berbeda.
Terlepas dari itu semua, buku ini layak juga untuk dijadikan sebagai referensi bacaan bagi orang-orang yang sedang mengalami keputusasaan dalam proses menuju menjadi bintang. Setiap orang layak menjadi bintang. Bukankan Allah telah berfirman, “Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia…” (QS. Ali Imran : 191). Oleh karena itu, marilah bersama-sama kita menjadi bintang sesuai bidang keahlian kita masing-masing. Wallahu’Alam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar