Sang Liberalis di Surau Tua
Ini adalah malam terakhir di Amsterdam. Saatnya Kamal harus berpisah dengan teman-temannya. Dua koper yang berisi puluhan buku serta satu koper lagi berisi pakaian bersiap - siap meluncur ke sebuah desa terpencil. Kamal akan pulang kampung karena ia telah menyelesaikan jenjang S-3 nya.
Sebenarnya Kamal tak ingin pulang kampung. Pulang kampung berarti harus bertemu dengan orang-orang yang berpikiran kolot, udik, dan tak mau diajak maju. Lain dengan di Amsterdam. Kota yang telah menarik hati banyak orang, termasuk Kamal.
Pagi mulai menyingsing. Tepat pukul delapan, Kamal dengan pakaian necis serta ditemani oleh tiga koper sudah berada di bandara. Dia tampak sedih harus meninggalkan Amsterdam yang telah ia tinggali selama sepuluh tahun. Kamal kemudian duduk sejenak mencoba menenangkan gusaran hatinya.
“Hah…, aku harus pulang kampung dan mengamalkan ilmuku kepada orang-orang kolot agar mereka berpikiran maju seperti aku.” kata Kamal yang mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
****
Selamat datang di Desa Wonoapik
Kamal telah tiba di kampung kelahirannya. Di desa Wonoapik, desa yang terpencil. Ia kaget bukan main. Kaget, karena Wonoapik berubah menjadi lebih baik. Listrik sudah masuk ke desanya. Jalan desa yang dulu berlubang dan tidak beraspal kini berubah menjadi seperti jalan perkotaan.
Dengan berjalan kaki sebentar, Kamal tiba di depan rumah bapaknya, Pak Masrun namanya.
“Bapak! Kamal pulang.” teriak Kamal kegirangan.
Tanpa memedulikan kopernya yang ditinggal begitu saja di halaman, Kamal langsung bersalaman dan memeluknya. Kamal melepas rindu. Hujan air mata kegembiraan antara keduanya tak tertahankan.
“Kamal, bapak senang kamu akhirnya pulang juga. Bapak sangat bangga mempunyai anak cemerlang seperti kamu. Kamu yang seorang anak petani miskin mampu menuntut ilmu ke negeri orang.”
Tak berselang lama suara azan magrib berkumandang. Pak Masrun yang sudah agak bungkuk bergegas pergi ke sebuah surau yang teramat tua. Tapi Kamal masih duduk bersila di serambi rumah. Baru kali ini ia mendengar suara azan. Hal yang tak lazim di kota Amsterdam. Kenangan masa kecil Kamal pun terbayang jelas.
Seorang Kamal kecil selalu bersemangat pergi ke surau tua itu. Setiap azan magrib, setiap itu pula Kamal dan sahabat karibnya Aziz berlarian sambil membawa al-Qur’an kecil pergi ke surau untuk bersama-sama mengaji.
Tiba-tiba Kamal teringat pada sosok Aziz.
“Oh ya, di mana sekarang sahabatku Aziz? Apa pekerjaannya sekarang? Seharusnya Aziz juga mampu seperti aku. Otaknya lumayan encer. Tapi sayang, dia lebih senang pergi belajar agama ke pesantren. Dia menolak ajakanku bersama-sama menuntut ilmu ke Belanda. Aku yakin dia masih seperti dulu. Berpikiran kolot, konservatif , dan tak mau di ajak maju.” kata kamal dengan senyum sinis.
Kamal enggan pergi ke surau. Ia menunaikan salat magrib dan isya’ di rumah. Setelah salat isya’ rampung, Kamal beranjak menuju kamar kesayangannya. Ia merebahkan badannya. Rasa kantuk mulai menggelayuti matanya. Kamal merebahkan tubuhnya di atas kasur yang beraroma kurang sedap karena lama tidak dibersihkan. Berulang kali ia mencoba tidur, mencoba memejamkan mata. Tapi Kamal tak bisa tidur. Aroma dari kasur memaksa Kamal harus beradaptasi dulu.
Tiba-tiba terdengar suara dari surau yang sudah menggunakan pengeras suara. “Assalamu’alaikum Wr. Wb. Yang terhormat Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu yang telah meluangkan waktunya untuk menghadiri majlis ini”.
“Suara siapa itu? Perasaan aku pernah mengenal suara itu. “ tanya kamal pada dirinya sendiri.
“Oh ya, itu suara Aziz. Sahabat karibku waktu kecil. “
Kamal berusaha untuk tidak memejamkan mata dahulu meskipun rasa kantuk sudah tak tertahankan. Ia ingin tahu bagaimana pemikiran Aziz sekarang dalam memahami agama.
“Bapak-Ibu sekalian, kita sekarang dihadapkan pada persoalan serius. Dengan dalih hidup di era serba modern, banyak muslimah yang enggan memakai jilbab. Padahal sebagai muslimah, memakai jilbab adalah sebuah kewajiban. Saya juga mengingatkan pada hadirin agar selalu menjaga pondasi akidahnya. Jangan sampai kita terjebak pada aliran-aliran sesat yang meresahkan.” tutur Aziz yang sudah menjadi ustadz di desa Wonoapik.
Mendengar ceramah Aziz, tawa dan olok-olok Kamal pecah. “Ha..ha…, sudah kuduga, Aziz masih memahami agama dengan pendekatan yang sempit, tekstualis. Pemahaman Aziz masih picik.”
****
“Kamal, cepat bangun! Nanti kesiangan.” rupanya Pak Masrun membangunkan Kamal untuk menunaikan salat subuh.
“Oh, ya! Kali ini aku harus ke surau. Aku harus menemui Aziz dan mengajak debat, akan aku ledek dia tentang ceramahnya tadi malam.” kata Kamal yang masih dirasuki rasa kantuk.
Sehabis menunaikan salat subuh, Kamal buru-buru ke teras surau. Ia akan mencegat sosok Aziz. Sudah hampir sepuluh tahun ia tidak bertemu. Melepas rasa kangen sampai ingin menguliahi Aziz tentang masalah jilbab dan aliran sesat.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya datanglah Aziz dengan memakai gamis putih dan sarung bermotif kotak-kotak.
“Assalamualaikum, Aziz.” sapa Kamal yang langsung memeluk Aziz.
“Wa’alaikum salam, Kamal.” sahut Aziz.
Setelah bernostalgia cukup lama dan sedikit berbasa-basi, Kamal mencoba mengarahkan arah pembicaraan pada tujuan utamanya.
“Zis, ceramahmu tadi malam kok sangat lucu”
Aziz terkejut. “Apa yang kamu maksud lucu?” tanya aziz penuh keheranan.
Kamal memulai skenario debatnya dengan mengungkap masalah kewajiban memakai jilbab. Kamal mengeluarkan seluruh argumennya tentang ketidak wajiban muslimah memakai jilbab. “Jilbab itu hanya masalah adat istiadat orang arab. Jadi hanya wajib untuk orang arab saja!”
“Kemudian kamu juga bicara masalah aliran sesat. Padahal, hanya Tuhan saja yang berhak menentukan seseorang sesat atau tidak. Manusia tidak mempunyai hak menilai seseorang sesat.”
Seketika, Aziz meneteskan air mata dan mengeleng-gelengkan kepala.
“Aku sangat kecewa padamu, Kamal. Kamu telah berubah. Kamu telah melewati batas-batas yang ditentukan oleh agama. Kamu telah menjadi penganut paham liberal. Tak kusangka, kamu terperosok ke dalamnya.”
Dengan memegang bahu Kamal, Aziz tidak memberikan komentarnya. Aziz merasa risih dengan pernyataan Kamal tadi. Tetapi ia memberikan sebuah nasihat untuk Kamal.
“Kamal, semua hasil pemikiran-pemikiran orang liberal hanya kuanggap sebagai kepicikan dalam memahami agama yang hanya berpatokan pada akal pikiran yang bebas tanpa kendali, yang hanya menerima doktrin agama sesuai akal semata. Mempelajari agama bukan seperti memahami matematika. Di samping menggunakan akal kita juga dituntut untuk menggunakan hati pula.” tambah Aziz
“Kamal, kamu belajar agama pada orang junub, mana mungkin kita belajar Islam pada orang yang tidak meyakini Islam sebagai agama yang paling benar? Pantaslah kamu menjadi ragu dan terus menggugat syariat Tuhan.” tandas Aziz.
Aziz sangat kecewa terhadap Kamal. Ia kemudian meninggalkan Kamal sendirian di surau.
“Desa ini telah berubah. Berubah ke arah perbaikan. Aziz juga berubah. Berubah menjadi seorang ustadz yang selalu meyakini ajaran agama. Dan aku pun juga berubah. Berubah menjadi seorang liberal yang terus ragu tentang kebenaran ajaran agamaku.” kata Kamal lirih. sambil memegang tiang surau yang sudah agak rapuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar