Kamis, 03 Februari 2011

Ekspansi Kaum Muda ‘Bali Ndeso’ dan Teori Malthus

Ketika masih kecil, ada hal yang menarik yang perlu saya ungkapkan di sini: Hampir setiap hari sepulang sekolah, saya selalu diajak oleh Ayah pergi ke sawah. Pertama-tama agak jengkel dan malas juga karena panas yang menyengat, gatal digigit serangga, dan kotor. Di sawah, ayah bercocok tanam padi dan beberapa tanaman pangan lainnya. Saat padi mulai menguning, saatnya panen. Hasilnya lumayan, sawah yang hanya beberapa petak milk Ayah rupanya menghasilkan beberapa karung beras. Sebagian hasil panen dijual ke pasar dan sebagian lagi disimpan untuk persediaan kami sekeluarga. Dan hal itu telah menjadi rutinitas di desa kami dan tentunya di desa-desa lainnya.
Tapi sayang, cerita di atas dari tahun ke tahun lambat laun hanya menjadi cerita usang. Apa pasalnya? Pertama, profesi sebagai petani pada era sekarang tidak begitu populer dan prestisius apalagi sampai menjanjikan dalam keuntungan finansialnya. Belum lagi tantangan sebagai petani kian menjulang. Mulai tantangan kelangkaan pupuk, kondisi alam yang tidak menentu, serta harus berjibaku dengan barang impor yang melimpah ruah.
Kedua, faktor tersebut mendorong banyak angkatan kerja produktif (kaum muda) yang asli penduduk desa kurang meminati bekerja sebagai petani dan lebih memilih menjadi kaum urban. Mereka pergi merantau dan bekerja di kota. Implikasinya, desa kian menjadi sepi ditinggal oleh para pemudanya. Lahan persawahan yang luas tidak tergarap secara optimal. Dan konklusinya adalah ketahanan pangan menjadi taruhannya.
Dewasa ini persoalan kelangkaan pangan tak kalah pentingnya dibanding persoalan lainnya. Di tengah pesatnya laju era modernitas yang ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, masalah yang paling pokok seperti kelaparan dan malnutrisi terus mengemuka.
Kelaparan dan malnutrisi sejatinya diakibatkan oleh beberapa hal, misalnya, tidak adanya daya beli masyarakat akibat kemiskinan, atau daya beli ada namun yang muncul adalah kelangkaan pangan (barangnya) yang diakibatkan seperti bencana alam atau gagal panen.
Indonesia yang dikenal sebagai negara agraris dan sebutan gemah ripah loh jinawi yang menyimpan lahan luas serta subur untuk bercocok tanam kiranya sungguh sulit jika harus dikatakan berpotensi besar mengalami kelaparan dan malnutrisi. Tapi faktanya mengingat beberapa kasus kelaparan dan malnutrisi pernah terjadi di beberapa daerah kiranya cukup menyadarkan kita semua bahwa predikat seperti itu perlu dipertanyakan kembali.
Apalagi, jika dihadapkan dengan gagal panennya sentra-sentra pangan nasional yang diakibatkan oleh alam (anomali cuaca) maka bisa jadi kelaparan dan malnutrisi akan benar-benar melanda di seluruh wilayah Indonesia. Realitanya, beberapa lumbung logistik nasional kita di wilayah Jawa memang kerap kali gagal panen ataupun kalau panen sering tidak melampaui batas yang ditargetkan.
Permintaan pangan yang terus meningkat akibat meningkatnya jumlah penduduk yang tidak sebanding dengan ketersediaan barang yang ada. Maka teori Malthus bisa jadi benar-benar melanda negara ini. Hal tersebut belum lagi diperparah oleh ketimpangan ekonomi dan laju penduduk kota-desa yang tidak seimbang.
Oleh karena itu, salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah dengan aksi nyata dari kaum muda. Mengapa harus kaum muda? Kaum muda adalah pemilik sah masa depan yang ikutserta bertanggungjawab baik langsung ataupun tidak terhadap kelangsungan masalah pangan bangsa ini kedepannya. Selain itu kaum muda juga identik dengan semangat dan jiwa militansi yang kuat. Serta menyimpan ide-ide yang kreatif dan inovatif.
Ekspansi kaum muda ‘bali ndeso’ yang berarti kaum muda kembali ke desa bukan berarti harus dimaknai secara sempit saja. Namun, selayaknya diterjemahkan sebagai langkah nyata kaum muda bergerak sesuai bidangnya masing-masing yang utamanya berorientasi pada ketahanan pangan di tingkat desa. Kongkritnya memang ada yang menjadi petani sungguhan, ada pula yang menciptakan varietas-varietas unggulan pertanian khususnya dari kaum muda yang menyandang gelar sarjana pertanian, membentuk LSM-LSM yang peduli terhadap pertanian dan ketahanan pangan, mengaktifkan kembali lumbung-lumbung pangan desa, mengelola pertanian menjadi investasi dan pekerjaan yang menjanjikan, mengusahakan kebijakan yang pro terhadap petani (tugas kaum muda yang tinggal di kota yang menjadi anggota legislatif) dan lain sebagainya.
Mencermati sejenak teori Malthus sungguh sangat mengkhawatirkan bila benar-benar menimpa bangsa ini. Apalagi laju pertumbuhan penduduk Indonesia diperkirakan semakin merangkak naik. Sedangkan hal itu tidak diimbangi oleh peningkatan kesejahteraan (daya beli) rakyatnya. Maka sangatlah relevan jika teori Malthus dijawab dengan aksi nyata kaum muda dengan ‘bali ndeso’-nya
Berat memang membangun paradigma kaum muda ‘bali ndeso’. Tapi asal ada kesadaran dari per individu dan serta peran aktif pemerintah maka hal itu bukan menjadi perkara yang mustahil, kan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar