Ku bawa dua koper menuju bagasi mobil. Kini, aku bersiap-siap untuk mengenakan pakaian terbaru yang ku beli tadi malam. Tak ketinggalan seluruh koleksi perhiasan 24 karat dengan aneka rupa ku pakai dengan sebuah kebanggaan. Kebanggaan akan terwujudnya semua ini setelah hampir sepuluh tahun hanya menjadi impian saja. Sebelum berangkat, pekerjaan wajib harus ku penuhi seperti umumnya pekerjaan wanita. Ku bersolek ria dengan aneka macam merek terkenal. Ku sematkan rasa bangga ini dengan melihat asal peralatan make-up ku. Ada lipstikku buatan singapura, bedak favoritku made in kuala lumpur, tak ketinggalan pula beberapa krim utnuk perawatan kulit yang bertuliskan huruf mandarin. Hampir semua barang di kamarku, di rumahku, dan dikantorku adalah buatan negeri orang lain. Ku tersenyum bangga, karena tak semua orang bisa seperti aku. Aku yang telah memiliki semuanya.
Bagi aku dan rekanan bisnisku, takkan ada istilah puas. Chaterin, misalnya, Dia lah orang yang mengajariku untuk terus bekerja, bekerja, dan berkerja. Dialah yang mengajariku untuk jangan pernah berpuas diri setelah apa yang ku inginkan tercapai.
Dulu, aku adalah ‘gelandangan’ yang dipungut oleh Chaterin. Aku dibekali dengan berbagai skill dan teori tentang kehidupan bisnis. Sebelumnya, aku tak begitu suka dengan segala macam kerumitan dunia bisnis. Asalkan ada modal besar, bisnis gampang dijalankan. Uangpun dengan sendirinya mengalir ke kantung celanaku. Begitulah anggapan ku waktu aku masih kuper tentang dunia bisnis.
Lima tahun lamanya aku menjadi asisten Chaterin. Namun, kini aku lepas. Aku disuruh berdikari. Dan…. Lihatlah deretan mobil-mobil mewahku. Rumah maupun villa yang berdiri megah. Maaf… aku terlalu mengobral ini. Sekali lagi aku takkan pernah puas. Aku terus maju. Dulu aku dibawah Chaterine. Sekarang posisi kita sama. Dan bukan sebuah kemustahilan.. aku akan diatas Chaterine.
Sudah lama aku mendamba menjadi wanita karir. Wanita yang sukses membawahi ribuan anak manusia. Memimpin rapat di sana-sini. Menghadiri berbagai macam seminar yang cukup melelahkan, tapi… bisa menaikkan pamorku. Tak ketinggalan dua minggu ini aku digadang-gadang oleh sebuah majalah bisnis terkemuka sebagai pengasuh rubrik konsultan bisnis. Ku hitung memang tak seberapa fulusnya, tapi seluruh penghuni jagad negeri akan mengenalku. Seorang wanita yang sukses yang tak pernah kenal akan kepuasan.
Ku langkahkan kaki menuju mobil yang berwarna merah keluaran terbaru. Kali ini ku sendirian. Tak ada mang Asep, supir pribadiku yang selalu setia mengantarkan setiap pagi ke kantor. Dua hari lalu ia pamit mau pulang kampung. Tapi, aku justru lega kali ini. Tak ada mang Asep membuat perjalanan nanti terasa bebas tanpa ada yang tahu siapa aku.
Di kota ini, Hanya Chaterin lah yang tahu siapa aku. Dialah sahabat kuliah dulu yang selalu membantuku. Dia pula rekanan bisnisku. Tapi, aku selalu kalah dari dia. Aku tak pernah menjadi to be winner. Dalam segala hal. Termasuk urusan bisnis. Jika kini, ku punya tiga rumah besar dan lima mobil, Dia sudah memiliki dua kali lipatnya dari kepunyaanku. Apalagi villa, setahun yang lalu dia bercerita mau membangun villanya yang kelima. Entah sekarang.. sudah berapa.Yang pasti aku kalah. Aku selalu menjadi runner-up.
Aku selalu diajari tentang bisnis oleh Chaterine. Ibarat dia seorang guru dan aku muridnya. Aku jadi asisten tapi dia telah menjadi atasan. Soal menjadi konsultan bisnis, ia sudah lima tahun mengasuh rubrik di majalah terkemuka itu. Dan aku direkomendasikan untuk menggantinya karena beliau karena banyak kesibukan lainnya. Aku kalah telak.
Sewaktu kecilpun, aku juga kalah. Aku selalu kebagian peringkat kedua. Aku tak pernah menyabet juara pertama seperti Sinta. Aku kalah iq dengan anak seorang pensiunan militer.
Tapi, kini aku merasa to be winner. Aku menjadi wanita sukses. Aku memenangkan duel. Sekarang siapa pemenangnya? Aku atau Sinta?. Ya, mungkin Sinta sekarang adalah seorang ibu rumah tangga. Sinta adalah budak suami. Sinta masih menempati rumah kecil, sempit dan sudah lapuk karena warisan orang tuanya.
Sudah lama sekali aku tak berjumpa dengannya. Sinta yang seperti Chaterine. Baik dan penuh perhatian. Tapi, menyebalkan karena aku selalu menjadi yang kedua.
Tak ada alasan untuk bernostalgia dengan Sinta. Aku akan pergi ke kampungnya sekalian membangun villa di sana. Biar semua orang kampung tahu. Termasuk Sinta, Siapa aku sekarang?
Enam jam menerobos jalanan membuat pantat seperti dipanggang diatas bara api. Baru pertama kali ini tangan dan kakiku yang halus merasakan linu. Belum lagi, polesan wajah yang sudah mulai luntur.
Bukanlah sebuah hal yang perlu dirisaukan ketika Anda akan bertemu dengan orang yang dibawah level Anda. Tak perlu risau akan sebuah pertemuan sahabat yang sudah beda level’.batinku berujar
Aku bukanlah orang yang mengada-ada. Kemungkinan-kemungkinan tentang Sinta memang benar adanya. Aku kena betul rumahnya. Masih seperti sepuluh tahun yang lalu. Kecil, sempit dan bangunan nya sudah di menandakan ketuaan. Kalu saja daun-daun yang tumbuh di pekarangan rumah Sinta bisa ngomong. Mereka akan menobatkan aku menjadi top leadies dengan pujian yang menggunung.
Ada suasana yang berbeda. Suasana seperti dulu lagi. Suasana sepuuh tahun lalu. Kampung ini masih menjajnjikan kesegaran, keteduhan, dan sebuah ketenanagan. Memang benar apa yang diceritakan oleh banyak rekan bisnisku ketika habis liburan di villanya masing-masing yang dibangun di sebuah kampung.
Ku ucapkan salam dengan tiga kali ketukan pintu. Terlihat seorang anak kecil yang masih ingusan membukakan pintu. Aku tiba-tiba kaget karena ia langsung berlari ke belakang sambil berteriak memanggil ibunya. Tak berselang lama, muncullah Sinta. Dengan senyum sunggingnya. Sama, masih seperti sepuluh tahun lalu.
Aku bukanlah paranormal yang pandai menebak nasib seseorang. Tapi, aku memang telah menjadi pemenang. Sebuah duel yang berlangsung selama sepuluh tahun.
Ya, dia adalah ibu rumah tangga. Tanpa bedak, tanpa make-up, Kulihat anak ingusan tadi mengintipku dari belakang kaki Sinta. Tangisan keras memekakkan telingaku. Rupanya, bayi digendongan Sinta terbangun. Sinta cepat-cepat mencoba menidurkannya lagi. “ Cup…cup..cup…, tidurlah anakku” .
Seperti hari pertama masuk sekolah, Sinta memperkenalkan kedua anaknya. Tak lupa, ia menunjukkan foto suaminya yang terpampang di ruang kelurga. ‘Lumayan ganteng’ ujar batinku.
Malam yang senyap. Malam di kampung yang sepi seperti kota yang memberlakukan jam malam saja. Tak ada nafsu makan. Sepiring ikan asin dan nasi yang sudah kelihatan basi dihidangkan kepada seorang wanita metropolitan, eksekutif seperti aku. Tak ada nafsu makan. Yang ada malah rasa mual yang tak tertahankan. Dengan masih bayi yang tertidur pulas digendonagnnya, Sinta berujar “ Maaf, memang inilah makanan sehari-hari kami, Mungkin jika kamu sempat mengabari mau menginap di sisin, Mungkin, menunya telur dadar dan sayur bening.”
Kami berdua berbincang panjang. Soal apa saja. Hingga larut malam. Termasuk soal laki-laki. “ Suamiku sedang bekerja di kota. Ia menjadi buruh bangunan. Seminggu sekali ia baru pulang.
Jangan-jangan suamimu lagi berhangat-hangatan dengan wanita perkotaan?” sindirku. “ Kita saling komit, saling percaya.” Jawab Sinta.
“Apa yang kau harapkan dari semua ini? “ Kau menjadi isteri, kau selalu dibawah komando sang suami. Tak ada kebebasan. Tiap pagi, menyiapkan sarapan, mencuci tumpukan pakaian, mengasuh dua bocah yang selalu merepotkan. “ aku mulai berargumentasi.
“Tapi, Aku bahagia De Selama ini”
“Logika seperti apa yang membuatmu bahagia?’
“Kebahagiana tak akan membutuhkan logika, De!”
Aku ditampar oleh sebuah kata yang memerahkan telingaku. Kebahagiaan di tengah hidangan ikan asin dan nasi setengah basi, Mana mungkin?”
Dia mencoba menerkaku. Sama seperti ketika aku menerka nasibnya sekarang. Ia mencoba menyanyakan sudah berapa anakku, yang besar sudah kelas berapa? Yang kecil sudah bisa apa?.
“Sin, aku sudah punyak anak buah ribuan orang. Sebagian sudah melebarkan sayapnya ke eropa, yang lain ada sudah masuk wilayah amerika.”
Sinta tersenyum. Ia tahu maksudku walaupun bukan seorang paranormal. Ia menepuk pundakku sebagai tanda kekagumamnnya padaku.
“Apakah engkau sangat bahagia, De!
“Ya, Sin. Karena kebahaigann selalu membutuhkan logika”
Di tengah kerepotan menidurkan kedua jagoan kecilnya, Ia menyiapkan kamar untukku.” Beristirahatlah, De!, Maaf, ini bukanlah kamar hotel bintang empat”.
Anda tentu tahu, seperti apa tempat tidurnya. Kamar tidur yang pengap. Tak ada sirkulasi udara. Belum ditambah serangan bau aneh dari dari kasur itu. Inilah pasti ompolan anak Sinta. Gumamku.
Rasanya belum lama aku terbang melayang ke alam mimpi, tangisan keras memekakkan telinga mampir membangunkanku.
Ya, seperti lazimnya, anak buncit Sinta melakukan kewajibanya. Tangisannyan makin mengencang sampai reda ketika Sinta mengganti popoknya, Cup…cup…tidurlah anakku” begitu kata sinta keibuan.
Aku termenung sejenak. Kebahagian dan logika di tandingkan. Bagiku, Kebahiaanaan harus sejalan denagan logika. Aku punya tiga rumah dan dua villa, wajar bila aku merasa bahagia.
Bagiku, mana mungkin kebahagiaan muncul lewat kebingsinagn ditenagh malam, bersusah payah menggganti popok yang basah karena ompolan.?
Bagiku, itu adalah sebuah logika yang dipaksa untuk merasakan kebahagiaan. Dan itu bukanlah kebahagiaan yang hakiki.
Andai saja dulu Sinta sempat mengenyam bangku perkulihan, tentu ia mungkin seperti aku. Bahkan bisa saja diatasku karena Sinta adalah wanita yang cerdas dan mempunyai jiwa kepemimpinan.
Pukul enam, aku terbagun, bukan karena suara anak Sinta tapi terdenagr suara gemricik air dari kamar mandi.
Sinta memandikan kedua anaknya. Andi tampak mengusili Anto, Anto menangis. Sinta pun memarahi Andi. Setelah itu Sinta bertingkah lucu sampai Andi dan to tertawa terpingkal-pingkal. Dari sudut ruang dapur, terlihat sepiring ikan asin, tak lupa semangkuk kecil bubur bayi telah siap saji untuk Anto.
“Kau melakukan ini setiap hari? “ tanyaku
“Ya, setiap hari, setiap waktu dan kapanpun” jawab sinta.
“Apakah kau akan bertanya lagi apakah aku bahagia?”
****
Ku ingin kembali ke Kota. Ku bukan orang kampung. Aku adalah orang yang selalu tak pernah puas lalu cepat bahagia. Kebahagiaan hanya akan didapat jika sesuai logika. Tak seperti prinsip Sinta. Bagiku, membangun villa di kampung sini akan menjanjikan sebuah kebisingan. Kali ini aku berbeda dari para rekanan bisnisku ketika mereka selesai liburan di villanya masing-masing, mereka berujar bahwa mendapatkan ketenangan dan membangkitkan spirit bekerja kembali.
Chaterine mengajariku akan sebuah peningkatan prestasi kerja. Tak kan ada kamus stop untuk merasa senang. Tapi, Sinta wanita polos yang telah mengajariku pula kebahagiaan yang tidak selalu logis dengan keadaan.
Aku disini berencana akan membangun villa megah yang hanya berjarak sepuluh meter dari rumah Sinta. Biar semua orang tahu, termasuk Sinta, Siapa aku. Tapi, itu menjadi tak mungkin bila kebisingan suara Andi tengah malam memekakkan teliangaku lagi.
Aku akan pergi, Sin!
“Lho, kenapa mesti cepat-cepat?”. Tinggallah di sini untuk beberapa hari.” Bujuknya’
Aku ingin bertemu dengan dengannya.
Dengan kebahagiaan
Untuk apa? Sahut sinta
Aku ingin bertanya langsung padanya, Apakah kebahagiaan membutuhkan dua villa atau hanya sekadar membutuhkan ikan asin dan nasi setengah basi saja?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar