Semua gembira meski timnas sepak bola Indonesia belum juara. Melihat tren positif selalu menang dengan ditambah sajian permainan yang memukau. Wajar saja, jika harapan akan timnas menjadi juara begitu tinggi.
Media terus menampilkan berita tentang timnas. Saking terusnya diberitakan, mungkin dirasa lebay (berlebihan). Karena berkat media, mungkin pecinta bola terus bertambah jumlahnya. Perempuan juga ambil bagian menjadi suporter dadakan karena ada Irfan Bachdim di dalam skuad merah putih.
Menjadi kian menarik jika kemenangan demi kemenangan timnas Indonesia berkat upaya naturalisasi, walau toh tidak mencampakkan kontribusi pemain lain (non naturalisasi). Karena sepak bola adalah permainan kolektif bukan individual.
Lebay naturalisasi?
Di tengah prestasi sepak bola Indonesia di kancah internasional yang stagnan atau mala-han mundur seperti misalnya timnas gagal menjadi kontestan Piala Asia 2011. Maka salah satu jalan yang terkesan instan adalah melalui naturalisasi pemain. Sejauh ini, tampak begitu mulus dan menemukan hasil yang memuaskan ketika Christian Gonzales memberikan kontribusi nyata ketika menghajar Pilipina lewat dua gol yang spektakuler. Dan PSSI sebagai wadah tertinggi persepakbolaan Indonesia terus menggencarkan program naturalisasi.
Asas kemanfaatan naturalisasi pemain memang menjadi langkah jitu untuk mendongkrark prestasi olahraga (sepak bola). Namun, sepatutnya naturalisasi hendaknya dilakukan melalui pemikiran jangka panjang.
Christian Gonzales sudah merasakan atmosfer sepakbola di Indonesia sejak 2003 dan langsung merumput bersama PSM Makassar, kemudian sempat berpindah ke Persik dan Persib Bandung. Di tiga klub tersebut, Gonzales semakin matang dan konsisten men-jadi penyerang produktif sampai beberapa kali menjadi top skor Liga Indonesia. Artinya, selama kurang lebih enam musim 'El Loco' -julukan Gonzales telah tahu betul karateristik gaya permainan pemain Indonesia. Wajar ketika ‘ditransfer’ menjadi penyerang timnas, ia begitu mampu beradaptasi dengan pemain lainnya.
Naturalisasi hendaknya jangan terlalu diobral. Pintar-pintar mencari pemain yang sudah mendarah daging ke-indonesiaannya (tahu betul karateristik permainan Indonesia) seperti layaknya Gonzales. Jangan sampai naturalisasi menjadi bumerang bagi nasib bibit asli Indonesia di kancah liga domestik.
Membangun timnas agar mampu menjadi setidaknya ‘macan Asia’ memerlukan upaya jitu namun stategis. Proses pencarian bibit-bibit muda melalui liga selayaknya di-perhatikan lebih serius dan tetap menjadi prioritas demi kemajuan timnas skala pan-jang.daripada sibuk menaturalisasi pemain.
Berkaca dari timnas Pilipina yang mayoritas pemainnya merupakan hasil naturalisa-si:.tercatat ada delapan sampai sembilan pemain timnas Pilipina sebagai produk naturalisasi yang pernah merumput di tanah Eropa. Namun, apa yang terjadi pada Pilipina sekarang tampaknya menjadi jawaban bahwa naturalisasi bukanlah jalan pintas untuk mencapai juara.
Selain bukan menjadi jaminan untuk menjadi juara, naturalisasi pemain akan memuncul-kan gap (jarak) yang jauh antara pemain naturalisasi dengan pemain ‘pribumi’ yang akan me-munculkan kecemburuan dari pemain ‘pribumi’.
Oktovianus, Bustomi, dan Nasukha setidaknya sampai semifinal Piala AFF 2010 telah memberikan harapan besar akan perubahan yang lebih baik pada timnas mendatang. Mereka cepat beradaptasi antar sesama pemain sehingga mempertontonkan kerjasama yang ciamik.
Naturalisasi boleh-boleh saja, asalkan tidak berlebihan (lebay). Perbaikan menyeluruh pada kompetisi domestik mutlak dijalankan. Alhasil, akan ada banyak Oktovianus, Bustomi dan Nasukha lainnya yang siap memajukan persepakbolaan Indonesia tanpa harus PSSI menjadi ge-mar ‘lebay melakukan naturalisasi”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar