Semakin mendekati Pemilu 2009, rakyat semakin sering disuguhi oleh banyaknya iklan politik antar parpol, caleg maupun capres. Iklan yang bertebaran baik di media cetak maupun elektronik tersebut merupakan sesuatu hal yang lumrah dan malah bisa dikatakan menjadi keharusan. Kenapa? Karena memang sejatinya rakyat perlu tahu siapa saja yang bakal dipilihnya kelak.
Melalui iklan pula, tingkat kepopuleran di mata rakyat akan meningkat. Walaupun populer tidak menjadi jaminan akan terpilih kelak. Sayangnya, banyak dari iklan politik tersebut malah menjadi ajang pembodohan rakyat. Para elite yang berambisi menjadi presiden ramai-ramai saling perang argumen yang berujung pada antipati rakyat sendiri. Perang argumen sah-sah saja bila dikemas dengan etika yang luhur tanpa melibatkan sikap saling ejek.
Iklan penurunan harga BBM sampai tiga kali oleh Partai Demokrat yang diidentikkan dengan prestasi Presiden Yudhoyono telah menimbulkan reaksi keras. Pihak oposisi menilai kebijakan tersebut bukanlah sebuah prestasi presiden, namun memang sewajarnya harga BBM turun mengingat harga di pasar internasional juga mengalami penurunan drastis. Bahkan ditambahkan para oposisi pula bahwa seharusnya harga BBM sekarang seharusnya mengalami penurunan lagi.
Megawati, selaku rival incumbent mencoba membuat tandingan dengan iklan “Sembako Murah”. Beliau menilai bahwa penurunan harga BBM ternyata tidak berdampak pada penurunan harga sembako. Malahan di beberapa daerah, harga sembako justru naik. Namun sayang, iklan tersebut dikemas terlalu provokatif dan terkesan menyerang iklan Partai Demokrat dengan terlalu vulgar.
Yang menjadi keprihatinan bersama adalah ketika semua iklan politik lebih menonjolkan pada kekayaan janji-janji utopis yang miskin dari segi cara pengimplementasiannya. Iklan politik seharusnya menyehatkan pikiran rakyat melalui kesantunan tanpa saling menyerang secara vulgar salah satu pihak.
Banyak cara sebenarnya agar iklan politik begitu indah dan enak untuk dinikmati. Iklan seorang Prabowo Subianto dan Sutrisno Bachir, misalnya. Kedua tokoh nasional tersebut mengingatkan akan saatnya menumbuhkan sikap kemandirian bangsa, mencintai produk dalam negeri dan memotivasi untuk lebih baik.
Mencermati perang iklan politik, sama halnya mencermati iklan produk-produk komersial lainnya. Semua memperlihatkan akan keunggulannya masing-masing. Meskipun isi iklan kadang tak sesuai dengan kenyataannya. Begitupun iklan semua parpol yang ingin menyejahterakan rakyat, menghilangkan kemiskinan dan kebodohan.
Dalam konteks perang iklan capres dan parpol, tentu rakyat harus jeli tentang bagaimana cara mengiklankan dirinya dan partainya. Kalau hanya dari mengemas iklan saja penuh saling jegal secara vulgar tanpa memedulikan unsur kesantunan, apalagi kalau sudah memangku tampuk kekuasaan nanti?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar