MEMASUKI era globalisasi, peran dan fungsi guru semakin diuji. Guru dituntut memiliki kompetensi yang lebih. Mereka perlu lebih luwes baik secara sosial maupun intelektual. Mereka juga perlu pelatihan dalam berbagai inovasi dan kreasi sebagai konsekuensi pesatnya perkembangan Iptek. Semua itu diperlukan untuk menunjang keberhasilan tugas-tugasnya mendidik calon-calon penerus bangsa.
Namun, guru jangan terperangkap oleh kubangan globalisasi. Globalisasi yang secara langsung ataupun tidak, ternyata telah merubah pola pikir dan perilaku yang cenderung perlahan-lahan mulai meninggalkan norma-norma agama dan etika.
Globalisasi yang transparan juga berdampak kepada para pelajar. Pelajar yang diharapkan sebagai penerus generasi bangsa mulai dirasuki kebiasaan tidak baik. Kebiasaan tawuran antar sesama pelajar, mengkonsumsi narkoba serta pergaulan bebas menjadi tak asing lagi ditemui.
Melihat kondisi para pelajar, sebenarnya ada yang salah dalam sistem pengajaran yang dilakukan oleh kebanyakan para guru. Model kesalahan itu adalah para guru hanya sebatas menyampaikan informasi dan memindahkan pengetahuan sesuai dengan bidangnya saja tanpa menyampaikan materi etika dan bermoral sedikitpun.
Sehingga dengan situasi seperti saat ini, para guru seharusnya mempunyai fungsi ganda. Pertama, mereka mengajar sesuai dengan bidangnya. Kedua, mereka juga mengajar tentang etika, tata krama dan sopan-santun. Inilah yang di maksud sebagai guru etika.
Globalisasi telah datang. Para guru hendaknya menjadi guru etika. Guru yang selalu memberikan nasihat-nasihat beretika kepada anak didiknya. Jangan hanya semata seorang guru agama saja yang paling layak memberikan nasihat keagamaan dan beretika. Namun, semua guru di bidang apa saja juga layak dan seharusnya seperti itu.
Era Globalisasi tidak hanya membutuhkan guru Iptek saja. Tapi juga membutuhkan guru etika. Wallahu ‘alam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar