Sabtu, 01 Juni 2013

Eksotisme Latar Lokal dalam Karya Fiksi



Judul: Banten; Suatu Ketika
Penulis: Guntur Alam, dkk
Penerbit: Banten Muda Community
Cetakan: Pertama, Desember 2012
Tebal: 162 Halaman
ISBN: 978-979168486-6
Peresensi: Muhammad Itsbatun Najih*

Pengembaraan atas liku-liku sejarah Indonesia perihal mengenai adat dan budayanya telah banyak tersaji melalui buku-buku sejarah. Dari situ kita mengenal aneka macam tari-tarian, pakaian khas, dan bentuk rumah. Sejarah kebinekaan Indonesia macam itu akhirnya menjadi tuturan serba formalistik. Kita perlu mengenang bahwa rangkaian kebinekaan masih harus terus dipelihara oleh bangsa ini agar diskursus nasionalisme itu bisa terbangun dengan baik dengan terlebih dahulu melalui sendi-sendi primordial.
Primordialisme dibutuhkan cukup sebagai identitas sekunder agar tidak melupakan tanah leluhur beserta adat istiadatnya. Kemudian dalam lanskap itu, primordialisme bermetamorfosis menjadi seperangkat kesadaran bernasionalisme dengan jalan berupa sikap mau membuka diri dengan mengetahui adat-istiadat pihak liyan.
Tamsil sederhana bisa diungkapkan seperti bagaimana sebagai orang Jawa, misalnya, bisa mengenal identitas orang Pasundan. Pengenalan identitas itu bisa mewujud pada makanan khas dan senjata andalan. Maka, rabeg Banten akan setara daya familiarnya dengan gudeg Jogja dan serabi Solo. Senjata keris dengan labelisasi kepemilikan orang Jawa bisa sebanding tajamnya dengan kujang Banten.    
Latar Lokal
Cerpen bukan sebatas karya fiksi yang sekadar bercerita. Penyelipan pesan pengarang soal apapun itu, baik moral maupun kondisi sosial dipandang lebih efektif membekas di benak pembaca daripada sekadar kumpulan petuah atau buku ilmiah. Begitupun ketika cerpen berfungsi mengenalkan suatu daerah tertentu, mempromosikan adat-istiadatnya dan sekaligus menginformasikan bahwa banyak destinasi eksotik di Indonesia yang luput dari sorotan pengarang.
            Urusan latar (setting) dalam karya fiksi dalam kondisi tertentu lebih menarik ketimbang urusan alur dan penokohan. Hal itu setidaknya bisa dilihat dengan menusantara bahkan mendunianya nama Pulau Belitong lewat novel Laskar Pelangi. Sayangnya, mengangkat tema berbasis kelokalan (kedaerahan) masih belum banyak disentuh para cerpenis.
            Padahal, Indonesia kaya budaya dan warna lokal. Tema berlatar lokal tentu tak melulu harus selalu diasosiakan lewat pembahasan dangkal sekadar mengenalkan pakaian dan rumah adat. Namun, persoalan tabiat, identitas, dan sejarah yang melingkupinya tentu menjadi kekayaan tersendiri guna mengeksplorasi penceritaan berbasis latar lokal.
            Dalam konteks Indonesia yang multikultural, pengambilan latar lokal sebagai tema sentral penulisan cerpen menjadi menarik karena dapat menumbuhkan ketakjuban sekaligus kebanggaan perihal kekayaan budaya suatu daerah lengkap dengan miniatur kekhasannya.
            Hal itu rupanya telah tersaji di buku antologi cerpen berjudul Banten; Suatu Ketika. Antologi cerpen yang seratus persen mengangkat latar tanah Banten dengan segala lika-likunya sebagai arus utama penceritaan. Terpapar lengkap bentangan sejarah Banten sejak era baheula lewat dongeng Nyai Pohaci sampai mengungkap sisi gelap kehidupan Pelabuhan Merak. Banten pun masih menyimpan banyak destinasi unggulan: Kesultanan Banten Lama, Pantai Anyer, Pantai Carita, dan Taman Nasional Ujung Kulon.
             Buku ini menjadi pelopor munculnya penceritaan Banten di era kekinian setelah karya fiksi seperti Agon, Sultan van Bantam, Les Francais a Java ou Bantam Sauve, Krakatoa, The Alcemist, dan Sekali Peristiwa di Banten Selatan karya Pramoedya Ananta Toer. Banten memang sedari dulu kadung masyhur dan ramai dibicarakan. Sudah banyak buku membahas seluk-beluk Banten dari sejarahnya sampai orang-orangnya yang dikenal jawara. Sayangnya, dominasi perbincangan perihal Banten lebih banyak tersaji secara  nonfiksi. Maka, menyajikan Banten dengan pendekatan fiksi menjadi alternatif pemahaman baru perihal kompleksitas keunikan Banten.
            Salah besar jika alasan tidak menggenggam buku ini berdasar sentimen egoisitas primordial semata: saya bukan orang Banten. Namun, terlebih diperlukan seberkas kesadaran bahwa khazanah Banten adalah khazanah Indonesia yang terselip di antara tumpukan khazanah daerah-daerah lain. Keunikan budaya Banten adalah keunikan yang daya tariknya setara dengan keunikan budaya daerah lainnya.
            Buku ini pun menyulut para pengarang dari daerah selain Banten untuk menyalakan tema latar maupun kultur lokal daerahnya masing-masing sebagai tema utama penceritaan. Dengan begitu, Indonesia tidak hanya sekadar Banten semata, melainkan keseluruhan ragam budaya senusantara yang semakin menegaskan bahwa bangsa ini memang kaya adat dan tradisi. Jika bisa terwujud, maka akan bermuara pada sikap saling mengenal, memahami, dan menghargai kultur masing-masing daerah.    
            Walhasil, bicara kebudayaan Banten adalah bicara tentang keindonesiaan; menguatkan sendi nasionalisme meski para pembaca buku ini berkebetulan orang Jawa, Sulawesi, Dayak, atau Papua.
*Penikmat Sastra, kelahiran dan bermukim di Kudus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar