Judul: Banten;
Suatu Ketika
Penulis:
Guntur Alam, dkk
Penerbit:
Banten Muda Community
Cetakan: Pertama,
Desember 2012
Tebal: 162
Halaman
ISBN:
978-979168486-6
Peresensi:
Muhammad Itsbatun Najih*
Pengembaraan
atas liku-liku sejarah Indonesia perihal mengenai adat dan budayanya telah banyak tersaji melalui buku-buku sejarah. Dari situ kita mengenal aneka
macam tari-tarian, pakaian khas, dan bentuk rumah. Sejarah kebinekaan Indonesia
macam itu akhirnya menjadi tuturan serba formalistik. Kita perlu mengenang
bahwa rangkaian kebinekaan masih harus terus dipelihara oleh bangsa ini agar
diskursus nasionalisme itu bisa terbangun dengan baik dengan terlebih dahulu
melalui sendi-sendi primordial.
Primordialisme
dibutuhkan cukup sebagai identitas sekunder agar tidak melupakan tanah leluhur beserta
adat istiadatnya. Kemudian dalam lanskap itu, primordialisme bermetamorfosis
menjadi seperangkat kesadaran bernasionalisme dengan jalan berupa sikap mau membuka diri dengan mengetahui
adat-istiadat pihak liyan.
Tamsil
sederhana bisa diungkapkan seperti bagaimana sebagai orang Jawa, misalnya, bisa
mengenal identitas orang Pasundan. Pengenalan identitas itu bisa mewujud pada
makanan khas dan senjata andalan. Maka, rabeg Banten akan setara daya
familiarnya dengan gudeg Jogja dan serabi Solo. Senjata keris dengan labelisasi
kepemilikan orang Jawa bisa sebanding tajamnya dengan kujang Banten.
Latar Lokal
Cerpen bukan
sebatas karya fiksi yang sekadar bercerita. Penyelipan pesan pengarang soal
apapun itu, baik moral maupun kondisi sosial
dipandang lebih efektif membekas di benak pembaca daripada sekadar kumpulan
petuah atau buku ilmiah. Begitupun ketika cerpen berfungsi mengenalkan suatu
daerah tertentu, mempromosikan adat-istiadatnya dan sekaligus menginformasikan
bahwa banyak destinasi eksotik di Indonesia yang luput dari sorotan pengarang.
Urusan latar (setting) dalam
karya fiksi dalam kondisi tertentu lebih menarik ketimbang urusan alur dan
penokohan. Hal itu setidaknya bisa dilihat dengan menusantara bahkan mendunianya
nama Pulau Belitong lewat novel Laskar Pelangi. Sayangnya, mengangkat tema berbasis kelokalan
(kedaerahan) masih belum banyak disentuh para cerpenis.
Padahal, Indonesia kaya budaya dan
warna lokal. Tema berlatar lokal tentu tak melulu harus selalu diasosiakan
lewat pembahasan dangkal sekadar mengenalkan pakaian dan rumah adat. Namun, persoalan tabiat, identitas, dan sejarah yang
melingkupinya tentu menjadi kekayaan tersendiri guna mengeksplorasi penceritaan
berbasis latar lokal.
Dalam konteks Indonesia yang multikultural,
pengambilan latar lokal sebagai tema sentral penulisan cerpen menjadi menarik
karena dapat menumbuhkan ketakjuban sekaligus kebanggaan perihal kekayaan
budaya suatu daerah lengkap dengan miniatur kekhasannya.
Hal itu rupanya telah tersaji di buku
antologi cerpen berjudul Banten; Suatu Ketika. Antologi cerpen yang
seratus persen mengangkat latar tanah Banten dengan segala lika-likunya sebagai
arus utama penceritaan. Terpapar lengkap bentangan sejarah Banten sejak era baheula
lewat dongeng Nyai Pohaci sampai mengungkap sisi gelap kehidupan Pelabuhan
Merak. Banten pun masih menyimpan banyak destinasi unggulan: Kesultanan Banten
Lama, Pantai Anyer, Pantai Carita, dan Taman Nasional Ujung Kulon.
Buku ini menjadi pelopor munculnya penceritaan
Banten di era kekinian setelah karya fiksi seperti Agon, Sultan van Bantam,
Les Francais a Java ou Bantam Sauve, Krakatoa, The Alcemist, dan Sekali
Peristiwa di Banten Selatan karya Pramoedya Ananta Toer. Banten
memang sedari dulu kadung masyhur dan ramai dibicarakan. Sudah banyak buku
membahas seluk-beluk Banten
dari sejarahnya sampai orang-orangnya yang dikenal jawara. Sayangnya, dominasi
perbincangan perihal Banten lebih banyak tersaji secara nonfiksi. Maka, menyajikan Banten dengan
pendekatan fiksi menjadi alternatif pemahaman baru perihal kompleksitas
keunikan Banten.
Salah besar jika alasan tidak menggenggam
buku ini berdasar sentimen egoisitas primordial semata: saya bukan orang Banten.
Namun, terlebih diperlukan seberkas kesadaran bahwa khazanah Banten adalah
khazanah Indonesia yang terselip di antara tumpukan khazanah daerah-daerah lain.
Keunikan budaya Banten adalah keunikan yang daya tariknya setara dengan keunikan
budaya daerah lainnya.
Buku ini pun menyulut para pengarang
dari daerah selain Banten untuk menyalakan tema latar maupun kultur lokal
daerahnya masing-masing sebagai tema utama penceritaan. Dengan begitu,
Indonesia tidak hanya sekadar Banten semata, melainkan keseluruhan ragam budaya
senusantara yang semakin menegaskan bahwa bangsa ini memang kaya adat dan
tradisi. Jika bisa terwujud, maka akan bermuara pada sikap saling mengenal, memahami,
dan menghargai kultur masing-masing daerah.
Walhasil, bicara kebudayaan Banten adalah
bicara tentang keindonesiaan; menguatkan sendi nasionalisme meski para pembaca
buku ini berkebetulan orang Jawa, Sulawesi, Dayak, atau Papua.
*Penikmat Sastra, kelahiran dan
bermukim di Kudus
Tidak ada komentar:
Posting Komentar